Yuk Ketahui Cara Menghitung OEE Untuk Menilai Performa Suatu Mesin!

Di dalam suatu produksi barang baik dalam usaha kecil maupun yang berskala besar pasti tidak lepas dari performa mesin produksi. Oleh karena itu, perlu adanya Overall Equipment Effectiveness (OEE) untuk mengetahui tingkat keefektifan kinerja dari suatu mesin yang digunakan.

Pengukuran OEE terhadap performa mesin sangat penting untuk dilakukan. Hal tersebut demi mencapai tujuan dari suatu usaha untuk mendapatkan keuntungan maksimal dengan mengoptimalkan ketersediaan mesin sesuai dengan kebutuhan produksi.


Apa Pengertian dari OEE?

 

Istilah OEE merupakan singkatan dari Overall Equipment Effectiveness. Mungkin ada diantara Anda yang masih belum paham atau bahkan asing dengan istilah tersebut, bukan? 

Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah suatu pengukuran terhadap efektivitas suatu mesin produksi dengan melihat ketersediaan jumlah mesin, performa mesin, dan kualitas hasil atau output yang dihasilkan oleh suatu mesin tersebut. 


Sehingga OEE ini digunakan oleh perusahaan untuk mengukur efektivitas dan produktivitas suatu performa mesin atau alat yang digunakan untuk kegiatan produksi dengan memperhitungkan availability, performance efficiency dan rate of quality product.

Standar Nilai dan Perhitungan OEE

 

Dalam menentukan suatu nilai dari efektivitas dan produktivitas suatu performa mesin atau peralatan produksi, Anda tidak bisa sembarangan menentukan standar nilainya. 


1. Rumus Overall Equipment Effectiveness
 

Nilai Overall Equipment Effectiveness diperoleh dari perhitungan rumus berikut ini:
 

OEE = A (%) x P (%) x R (%)
 

Ketentuan:

  • A = Availability > 90 %
  • P = Performance Efficiency > 95 %
  • Q = Quality Product > 99 %

Dari keterangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kondisi ideal atau normal suatu nilai Overall Equipment Effectiveness adalah 85 %. Sehingga dapat dikatakan suatu performa mesin yang efektif dan produktif itu jika memiliki nilai minimal 85 %.
 

2. Rumus Availability
 

Availability merupakan hasil dari perbandingan antara lamanya waktu mesin beroperasi dengan waktu persiapan yang diperlukan. Hal ini untuk mengukur dan mengetahui performa mesin sampai sejauh mana.
 

Rumus Availability adalah sebagai berikut:
 

Availability = Operation time : Loading time
 

Keterangan:

  • Operation time adalah hasil dari pengurangan loading time dengan waktu downtime.
  • Loading time adalah selisih dari waktu yang tersedia setiap hari denngan waktu mesin yang direncanakan
  • Downtime adalah waktu yang dihabiskan mesin atau peralatan selama berhenti beroperasi karena ada gangguan sehingga tidak dapat menghasilkan output.


3. Rumus Performace Efficiency
 

Performance Efficiency merupakan suatu hasil dari perbandingan hasil produksi real dengan yang direncanakan.
 

Rumus Performance Efficiency adalah sebagai berikut:
Performance Efficiency = (Processed amount x Ideal cycle time : Operation time) x 100%
 

Keterangan:

  • Processed amount adalah jumlah produk yang sedang dalam proses diproduksi
  • Ideal cycle time adalah waktu ideal dari suatu proses produksi
  • Operation time adalah waktu yang dibutuhkan mesin untuk beroperasi


3. Rate of Quality Product
 

Rate of quality product merupakan suatu hasil dari jumlah keseluruhan barang yang diproduksi yang dibagi dengan jumlah produk yang gagal atau cacat.
 

Berikut rumus Rate of quality product:
 

Rate of quality product = (Processed amount – Defect amount) : Processed amount x 100%
 

Keterangan:

  • Processed amount adalah suatu jumlah keseluruhan dari barang yang akan diproduksi
  • Defect amount adalah jumlah keseluruhan dari hasil produksi yang gagal atau cacat

Contoh Soal Studi Kasus Perhitungan OEE

  • Waktu operasional suatu mesin produksi adalah 480 menit dengan waktu setup selama 10 menit tanpa mengalami breakdown. Sehingga nilai availability = (480-10-0) : 480 = 98%.
  • Waktu running suatu mesin adalah 470 menit dengan cycle time selama 17 detik setiap unit sehingga menghasilkan produk sebanyak 1400 unit. Sehingga nilai performance (17 x 1400) : 470 = 84%
  • Jumlah barangyang cacat sebesar 168 unit. Sehingga diperoleh nilai quality sebesar 88%.
  • Nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) = 98% x 84% x 88% = 72%, sehingga nilai efektivitas dan produktivitas mesin adalah 72%.


Kelebihan dan Kekurangan Overall Equipment Effectiveness (OEE)


 

Adanya suatu alat pengukuran performa alat atau mesin produksi tentunya memberikan manfaat bagi pemilik usaha karena sangat mempengaruhi terhadap efektifitas mesin dan hasil produksi yang dihasilkan. 

Berikut beberapa kelebihan dari Overall Equipment Effectiveness:

  • Overall Equipment Effectiveness berguna di dalam mengukur tujuan dari ketercapaian suatu target perusahaan atau pemilik usaha.
  • Hasil dari nilai Overall Equipment Effectiveness berguna untuk mengetahui suatu keefektifan mesin, sehingga akan mampu menghemat biaya yang tidak seharusnya dikeluarkan.
  • Pemilik usaha dapat mengetahui mesin yang memiliki performa di bawah standar, sehingga bisa melakukan tindakan yang tepat.
Sementara itu kekurangan Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah:
  • Telalu membuang waktu untuk mengumpulkan data-data
  • Terfokus pada nilai bukan pada perbaikan kekurangan
  • Tidak melakukan perubahan secara total


Selain melakukan pengukuran terhadap performa mesin, Anda harus berkomitmen untuk melakukan perubahan pada setiap kekurangan. Hal tersebut perlu dilakukan demi mendapatkan hasil produksi yang optimal.

0 komentar

Post a Comment