Kenali Tahapan Produksi Untuk Kesuksesan di Dunia Industri!

Untuk menghasilkan produk yang berkualitas seorang produsen harus memperhatikan tahapan-tahapan produksi agar sukses di dunia industri. Dalam tahapan produksi perusahaan harus mempertimbangkan berbagai faktor, seperti pasar yang baik di masa yang akan datang, siklus hidup produksi (product life cycle), arus kas, dan kemampuan keuangan perusahaan.

 


Tahapan Produksi yang Harus Dikenal oleh Pelaku Usaha


Tahapan produksi dibagi menjadi dua yaitu, tahapan perencanaan produksi dan juga tahapan proses produksi. Penjelasan keduanya ada di bawah ini.

Tahapan Perencanaan Produksi


Dalam perencanaan produksi, produsen perlu memperhatikan berbagai aspek baik yang berasal dari dalam maupun dari luar organisasi/perusahaan.

Adapaun tahapan perencanaan produksi meliputi :

1. Ide Produksi

Ide produksi yaitu ide usaha yang akan dijalankan yang berpotensi sebagai sumber keuntungan. Perusahaan dalam menetapkan ide produk harus memperhatikan beberapa hal berikut ini, meliputi:

  • Dorongan pasar, yaitu perusahaan harus melakukan riset terhadap kebutuhan konsumen.
  • Dorongan teknologi, yaitu teknologi apa saja yang dapat membantu perusahaan untuk dalam melakukan riset dan pengembangan produk.
  • Koordinasi antar fungsi manajemen, yaitu kemampuan perusahaan dalam mengelola keuangan, pemasaran, dan personalia demi suksesnya tahapan produksi yang akan dijalankan.



2. Seleksi Ide Produk

Setelah membuat ide produk, selanjutnya perusahaan perlu menyeleksi ide produk yang akan dieksekusi. Dalam melakukan penyeleksian, perusahaan harus memperhatikan beberapa aspek berikut ini:

  • Evaluasi pasar, yang meliputi apa saja kebutuhan konsumen. Secara teknis operasional perusahaan akan mempertimbangkan kemampuannya dalam menghasilkan produk dengan fasilitas yang ada dan kemampuan memperoleh bahan baku dan bahan pembantu.
  • Keadaan keuangan organisasi/perusahaan. Perusahaan harus berhati-hati dalam menganalisa keuangan, baik neraca saldo yang tersedia maupun kemungkinan keuntungan yang akan didapatkan. Termasuk perusahaan perlu melakukan perhitungan break even point (BEP) yang berguna untuk mengetahui proyeksi kapan modal usaha yang akan digunakan itu balik modal dan kapan usaha tersebut bisa menguntungkan.



3. Desain Awal (Rancang Bangun).

Setelah menetapkan ide usaha apa yang akan dijalankan, manager produksi perlu melakukan perencanaan desain awal (rancang bangun) produksi. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan oleh perusahaan dalam tahap pembuatan rancang bangun produk adalah sebagai berikut:

  • Manfaat apa saja yang akan didapatkan ketika konsumen menggunakan barang produksi tersebut.
  • Fungsi barang produksi, termasuk di dalamnya fungsi primer (utama) atau fungsi sekunder.
  • Bentuk barang yang akan diproduksi.
  • Seni atau keindahan barang produksi yang ditampilkan dalam produk, namun perusahaan harus tetap memperhatikan kesimbangan biaya yang akan dikeluarkan.
  • Kualitas barang produksi.
  • Performance barang produksi.



4. Prototype

Pada tahap prototype ini, perusahaan akan menghasilkan barang uji coba. Dan selanjutnya, perusahaan melakukan percobaan terhadap kemampuan dan kekuatan dari prototype barang produksi.

5. Pengujian (Testing)

Untuk mengetahui apakah hasil prototype memenuhi syarat atau tidak, maka perlu dilakukan uji coba terhadap fungsi barang produksinya dalam berbagai keadaan yang mungkin terjadi. Dengan pengujian tersebut nantinya akan didapatkan keunggulan dan kelemahan dari barang produksi. Selain itu, melalui tahapan ini juga akan dilakukan analisis terhadap keindahan bentuk dari barang produksi.

6. Desain Akhir

Pada tahap ini, perusahaan perlu menyempurnakan terhadap barang produksi yang telah melewati berbagai tahap pengujian. Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan, perusahaan dapat mengetahui apa saja yang kurang dari produk tersebut.


Tahapan Proses Produksi





Tahapan Proses Produksi. Secara umum, proses produksi dapat dibagi menjadi empat tahapan produksi, yaitu meliptui :

1. Perencanaan (Planning)

Tahap perencanaan merupakan tahapan dalam menentukan berapa jumlah bahan baku yang dibutuhkan, berapa biaya yang dibutuhkan, dan berapa jumlah tenaga kerja yang diperlukan dalam melakukan produksi.

2. Penentuan Alur (Routing)

Produsen perlu menentuan alur produksi, yaitu urutan kegiatan dari proses produksi. 

Dalam tahap ini produsen akan menentukan alur produksi mulai dari pemesanan bahan baku dari supplier, pengolahan awal bahan baku, tahapan finishing, pengawasan mutu (quality control), hingga pemasaran dan pendistribusian barang hasil produksi. 

Hal penting yang harus diperhatikan produsen dalam tahap penentuan alur ini adalah:

  • Perusahaan harus menentukan secara tepat urutan produksi 
  • Berapa jumlah pegawai yang dibutuhkan pada setiap alur produksi.


3. Penjadwalan (Scheduling)

Setelah alur produksi dibuat, produsen harus menentukan jadwal (schedule) mengenai kapan produksi dimulai.

Penjadwalan ini dibagi menjadi dua, yaitu jadwal utama (master schedule) dan jadwal terpericini. Kedua jadwal yang dibuat tersebut harus mempertimbangkan jam kerja pegawai dan lama dari setiap alur produksi.

4. Perintah Memulai Produksi (Dispatching)

Setelah jadwal produksi dibuat, produsen melalui manajer produksi dapat memberikan perintah untuk memulai produksi sesuai dengan jadwal produksi yang telah tersedia.

Dalam perintah memulai produksi bagian produksi akan mencantumkan dan mencatat hasil perencanaan dan penjadwalan yang telah dilakukan pada tahapan sebelumnya, seperti berapa jumlah bahan baku yang telah digunakan, tahapan pembuatan hingga apakah waktu produksi yang dibutuhkan sesuai dengan penjadwalan.


Indikator Keberhasilan Tahapan Produksi

Indikator keberhasilan tahapan produksi dapat digunakan perusahaan untuk menilai berhasil atau tidaknya suatu tahapan produksi yang telah dibuat, yaitu meliputi :

  • Kemampuan menyesuaikan diri, yaitu kemampuan pegawai dalam mengetahui dan memahami pekerjaannya.
  • Produktivitas kerja, yaitu pencapaian yang dihasilkan oleh pegawai, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas barang produksi yang dihasilkan.
  • Kepuasaan kerja, yaitu tingkat kepuasan yang didapatkan oleh pegawai dalam melakukan tanggung jawab pekerjaannya. Kepuasan kerja akan berkorelasi dengan penerimaan hak pegawai setelah melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik dan benar.
  • Kemampuan mendapatkan laba, yaitu hasil atau keuntungan yang diperoleh perusahaan setelah memasarkan barang hasil produksi. Laba menjadi indikator penting bagi perusahaan untuk melihat apakah produksi barang yang dilakukan membawa keuntungan ataukah tidak.


Demikianlah penjelasan mengenai tahapan-tahapan yang terjadi pra produksi dan selama proses produksi berlangsung. Setelah kedua tahapan produksi tersebut dijalankan, perusahaan akan mulai  memasarkan dan mendistribusikan barang-barang hasil produksi. Perusahaan perlu melakukan monitoring dan membuat laporan keuangan dari hasil pemasaran barang-barang produksi tersebut. Selain itu, perusahaan juga harus melihat reaksi dari konsumen serta kemantapan barang produksi dalam persaiangannya di pasaran.

0 komentar

Post a Comment