Kearifan Lokal: Pengertian, Fungsi, Karakteristik, Dimensi, Bentuk dan Contohnya

Author -  Admin Pengadaan

Setiap daerah memiliki kearifan lokalnya masing-masing. Contohnya adalah Bali yang merupakan salah satu daerah yang masih kental nilai kearifan lokalnya. Bali menjadi wilayah yang berhasil "nguri-nguri" atau menghidupkan budaya lokalnya sehingga mampu menunjang perekonomian daerahnya. Hal ini karena didukung oleh masyarakat yang memiliki antusias yang tinggi terhadap budaya-budaya maupun ritual keagamaan yang ada di Bali. 

Sebagai bagian dari kebudayaan tradisional, Kearifan Lokal merupakan satu aset warisan budaya yang sampai saat ini terus mendapatkan tekanan dari pengaruh modernisasi dan globalisasi. Meskipun demikian, masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang telah berhasil memanfaatkan kearifan lokalnya untuk menghidupkan perekonomian warganya.

Lalu, apa sih sebenarnya kearifan lokal itu? Dan bagaimana bentuknya?



Apa itu Kearifan Lokal? 

Kearifan lokal atau local wisdom merupakan istilah yang berasal dari dua kata, yaitu kearifan (wisdom) yang berarti kebijaksanaan dan lokal (local) yang berarti setempat. 

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa kearifan lokal adalah gagasan yang tumbuh dan berkembang di suatu masyarakat secara terus-menerus berupa adat istiadat, tata aturan/norma, budaya, bahasa, kepercayaan, dan kebiasaan sehari-hari.

Untuk menjaga kelestarian suatu kearifan lokal di daerah, maka masyarakatnya harus tetap mempertahankan serta melaksanakan aturan, nilai budaya lokal, dan norma yag ada.

Fungsi Kearifan Lokal

Adapun fungsi kearifan lokal yang sangat beragam di seluruh wilayah Indonesia ini, yaitu:

  1. Sebagai sarana pengembangan kualitas sumber daya manusia, seperti yang berkaitan dengan upacara daur hidup dan konsep kanda pat rate atau siklus hidup, dari benih hingga kematian.
  2. Sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
  3. Sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan.
  4. Sebagai sarana sosial yang mana memperart solidaritas sosial antara satu dengan yang lain, misalnya ketika ada upacara adat yang mengharuskan seluruh warganya ikut serta.
  5. Sebagai sumber pengetahuan untuk generasi berikutnya tentang etika dan moral.
  6. Sebagai sarana untuk mendorong masyarakat agar senantiasa melestarikan dan juga melakukan upaya konservasi sumber daya alam yang ada di lingkungan sekitar agar tidak rusak.


Karakteristik Kearifan Lokal


Sebuah adat-istiadat, budaya, dan sejenis lainnya dapat dikatakan sebagai kearifan lokal apabila memiliki karakteristik sebagai berikut ini:

1. Memiliki kemampuan mengendalikan suatu budaya lokal

Sesuai dengan namanya, kearifan lokal didasari dengan kebijaksanaan yang menjadi kesepakatan bersama masyarakat di wilayah tertentu. Nah, pada praktiknya kearifan lokal ini mampu mengendalikan suatu budaya lokal yang berkembang sebagai keunggulan yang melekat.

2. Menjadi benteng untuk memperkuat budaya lokal dari pengaruh budaya luar

Sebagai sebuah keunggulan dari suatu daerah, kearifan lokal mampu mempertahankan budaya lokal yang berkembang, sehingga mampu bertahan di tengah gempuran budaya dari luar.

Meskipun demikian, kearifan lokal dengan kebijaksanaannya bukanlah anti terhadap budaya luar. Kearifan lokal bersifat fleksibel sehingga mampu beradaptasi dan mengakomodir budaya luar yang positif untuk kemudian dapat masuk atau bahkan berkolaborasi agar tetap diterima oleh masyarakat.


3. Memiliki petuah atau petunjuk yang mampu memberikan arah perkembangan budaya

Perkembangan zaman yang semakin modern membuat budaya lokal sedikit banyak mengalami dampaknya. Dengan kehadiran kearifan lokal ini, gagasan-gagasan atau ide yang muncul dari masyarakat dapat digunakan untuk mengarahkan perkembangan budaya sehingga dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman.



Dimensi Kearifan Lokal

Kearifan Lokal mempunyai enam dimensi, yaitu:


  1. Dimensi pengetahuan lokal, yaitu masyarakat setempat memiliki pengetahuan lokal yan terkait dengan lingkungan hidupnya.
  2. Dimensi nilai lokal, yaitu aturan dan nilai-nilai norma yang harus yang ditaati dan disepakati bersama oleh seluruh masyarakat untuk mengatur anggota masyarakat itu sendiri.
  3. Dimensi ketrampilan lokal, yaitu kemampuan untuk berkreasi dan berinovasi yang dapat dipergunakan sebagai kemampuan untuk bertahan hidup.
  4. Dimensi sumber daya lokal (sumber daya alam), yaitu sumber daya alam yang dapat dipergunakan oleh masyarakat lokal sesuai dengan kebutuhan dan dengan menjunjung tinggi local wisdom tersebut tidak akan mengeksploitasinya secara besar-besaran atau dikomersilkan. 
  5. Dimensi mekanisme pengambilan keputusan lokal (kesukuan atau ketokohan), yaitu anggota masyarakat memiliki sistem pemerintahan lokal sendiri di mana menjunjung tinggi adat istiadat kesukuan atau tokoh yang menjadi panutan.
  6. Dimensi solidaritas kelompok lokal, yaitu suatu masyarakat umumnya dikelompokan oleh ikatan komunal yang dipersatukan oleh ikatan komunikasi untuk membentuk solidaritas lokal seperti dalam bentuk ritual keagamaan dan upacara adat.





Bentuk-bentuk Kearifan Lokal

 

Bentuk-bentuk kearifan lokal merupakan kerukunan dalam keberagaman yang harus dijunjung tinggi dengan menerapkannya dalam wujud praktik sosial yang dilandasi suatu kearifan dari budaya. 

Bentuk kearifan lokal dalam masyarakat dapat berupa budaya dan tradisi, yaitu nilai luhur, kepercayaan, adat istiadat, hukum adat yang berlaku di suatu masyarakat tersebut.

Karapan Sapi Madura via liliksoebari.blogspot.com

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bentuk-bentuk kearifan lokal dapat kita temui dalam cerita rakyat, nyayian, tarian, pepatah, pantun, petuah, semboyan, upacara tradisi dan ritual, serta kitab-kitab kuno yang masih tersimpan dan melekat dalam perilaku sehari-hari.


Tari Piring dari Minang via Pinterest


 

Selain berupa nilai dan kebiasaan sehari-hari, kearifan lokal juga dapat berwujud dalam bentuk benda-benda nyata. Salah contohya adalah seni pewayangan. Seni wayang kulit ini diakui sebagai wujud kekayaan budaya Jawa karena memiliki nilai edipeni (estetis) dan adiluhung (etis) yang melahirkan nilai-nilai luhur yang harus dipegang dan dijalankan oleh masyarakat. 

Dalam pertunjukan pewayangan akan didukung dengan keindahan seni sastra jawa yang agung, seni musik, seni suara, dan seni sungging dan ajaran-ajaran mistik Jawa yang bersumber dari kepercayaan yang ada dan hidup dalam masyarakat Jawa tempo dulu.

 

Othek, Musik Lesung Kearifan Lokal Masyarakat Banyuwangi


Bentuk kearifan lokal yang terdapat pada masyarakat jawa selain wayang adalah rumah tradisional joglo yang memiliki nilai dan falsafah yang kuat.

Itulah ulasan mengenai kearifan lokal. Kearifan lokal sejatinya terbentuk dari respon manusia terhadap lingkungannya. Setiap wilayah memiliki Kearifan Lokal yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahaman dan kecerdasan masyarakatnya serta kemampuan beradaptasinya terhadap lingkungan setempat di merekaia tinggal.

1 komentar:

  1. Artikel yang sangat menarik. Agar menambah wawasan, saya rekomendasikan artikel berikut : http://news.unair.ac.id/2019/11/16/pakar-pariwisata-unair-sebut-kearifan-lokal-sebagai-dasar-membangun-suistanable-rural-tourism/

    ReplyDelete