Keunggulan dan Kelemahan Just in Time (JIT) Dalam Sistem Produksi

Konsep dasar sistem produksi Just-In-Time (JIT) adalah perusahaan memproduksi output pada waktu yang dibutuhkan oleh pelanggan dengan jumlah yang sesuai kebutuhan pelanggan.

Just in time merupakan salah satu tiang utama dari konsep lean manufacturing untuk produksi yang paling ekonomis dan efisien. Hal ini diperlukan sekali seperti saat ini di mana persaingan global yang semakin kompetitif dan konsumen pun menginginkan harga terjangkau dengan tingkat kualitas yang diinginkan.

Persediaan Produk di Warehouse via Pixabay.com

Apa itu Just in Time (JIT)?


Just in Time adalah sebuah filosofi yang berusaha mendekati kesempurnaan. Penggunaan Just in Time sering diartikan dengan tidak ada persediaan dan tidak ada stok di dalam produksi dimana Just in Time tidak hanya merupakan teknik untuk mengontrol persediaan tetapi juga mencakup strategi produksi. 

Just in Time menunjukkan waktu dari kegiatan produksi dimana barang dikirim ke area produksi hanya pada waktu akan digunakan, pada jumlah yang dibutuhkan, dan hanya pada proses produksi yang membutuhkannya.


Tujuan Just in Time

 

Sistem produksi just in time ini memiliki beberapa tujuan, yaitu:

  • Berorientasi dan fokus pada kepuasan pelanggan.
  • Mengoptimalkan proses-proses dan prosedur selama produksi.
  • Mengurangi biaya produksi.
  • Meningkatkan produkstivitas industri secara keseluruahan.


Sejarah Awal Mula Just in Time


Pada mulanya sistem Just in Time ini dikembangkan oleh Toyota Motor Cooperation di Jepang. Sebagai pihak penemu, sistem produksi JIT ini juga sering disebut Toyota Production System (TPS). Setelah krisis minyak dunia pada tahun 1973, sistem ini kemudian berkembang dan diadopsi oleh banyak perusahaan di wilayah Jepang.

Pertama kali just in time diterapkan untuk manajemen persediaan dan dipandang sebagai suatu pendekatan terhadap Quality Control. Perencanaan produksi dalam just in time menggunakan sistem tarik (pull system) serta direalisasikan oleh kanban. Sistem tarik yaitu menggunakan sinyal atau tanda dari konsumsi pemakaian produk yang memberi tahu kapan produksi dapat dimulai.


Produksi Just in Time merupakan suatu falsafah manajemen yang ditujukan untuk mengurangi pemborosan yang terjadi pada semua aspek manufaktur dan kegiatan yang berkaitan. Toyota telah mengidentifikasi tujuh sumber pemborosan dalam manufaktur:

  1. Proses, perusahaan berkomitmen untuk menghasilkan produk secara konsisten dengan cacat minimum, dalam jumlah yang diperlukan, dan biaya overhead yang kecil.
  2. Metode, dikatakan mengalami pemborosan metode apabila proses yang dilaksanakan menambah waktu, upaya dan biaya.
  3. Pergerakan, yaitu pemborosan pergerakan dikarenakan adanya aktivitas SDM dan peralatan atau mesin yang sebenarnya tidak diperlukan karena tidak menambah nilai pada sebuah produk.
  4. Cacat produk, produk yang mengalami defect (cacat) dapat menyebabkan kelancaran arus kerja terganggu sehingga membutuhkan penambahan biaya dan waktu proses.
  5. Waktu tunggu, pekerja sebaiknya melakukan handling atau penanganan terhadap material tanpa proses antrian. 
  6. Produksi berlebihan, yaitu pemborosan yang diakibatkan karena jumlah produksi yang melebihi permintaan.
  7. Inventory, yaitu inventory atau persediaan yang berlebih akan membutuhkan biaya untuk penyimpanan.


Syarat-syarat Penerapan Just In Time


Syarat-syarat diterapkannya produksi just in time sangat tergantung dari peran para pekerja itu sendiri yaitu, setiap orang yang terlibat di dalam prosesproduksi harus mempunyai prespektif yang sama untuk menerapkan produksi tepat waktu (just in time). Syarat-syaratnya yaitu :
 

  1. Operasi produksi dijalankan atas dasar permintaan sehingga kegiatan produksi diatur secara berturut-turut.
  2. Meminimalkan tenggang waktu produksi di setiap unit. Tenggang waktu produksi adalah waktu yang dibutuhkan untuk tahap awal produksi barang sampai pada saat keluarnya barang jadi (finished goods) dari lini prouksi.
  3. Lini produksi diberhentikan jika terjadi cacat produk. Setiap karyawan didorong untuk meminimumkan sumber-sumber potensial penyebab masalah cacat produk tersebut.

 

Perbaikan-perbaikan untuk menghasilkan Just In Time
 

Sekilas JIT sangat sederhana, tetapi bila di oba akan ditemukan bahwa sistem ini cukup rumit dan banyak hal yang tidak dapat dimengerti sepenuhnya sampai hal ini telah coba diterapkan. Dibawah  ini  perbaikan-perbaikan yang  harus dilakukan sebelum menghasilkan suatu sistem produksi JIT:
 

  1. Flow Manufacturing, yaitu perusahaan perlu menghilangkan tumpukan dan antrian btarang-barang yang masih work-in-process (WIP) untuk menghasilkan aliran yang lancar dalam sistem produksi. Tujuannya adalah untuk memungkinkan setiap barang yang dikerjakan mengalir melalui rantai proses dalam siklus waktu yang tepat.
  2. Multi process handling, yaitu operator mesin mengerjakan secara bersamaan atau berurutan dengan barang yang sedang dikerjakan dan hal ini sesuai dengan aliran proses pembuatan barang tersebut.
  3. Kanban, yaitu sebuah tanda yang mencantumkan instruksi operasi atau informasi pergerakan barang.
  4. Man Power Reduction, yaitu menekan kebutuhan tenaga kerja menjadi seminimal mungkin.
  5. Visual Control, yaitu menampilkan status suatu kegiatan agar setiap karyawan dapat melihatnya dan mengambil tindakan perbaikan yang sesuai. Berbagai tools manajemen visual yang dapat digunakan sebagai tanda yaitu seperti color-coding, charts, andon, papan penjadwalan, label, dan penanda di lantai.
  6. Change over, yaitu perbaikan-perbaikan yang bertujuan untuk meningkatkan keluwesan produksi.
  7. Leveling, yaitu perataan tipe atau bauran produk dalam jadwal produksi.
  8. Quality Assurance, yaitu yaitu monitoring, uji-tes dan memeriksa semua proses produksi yang terlibat dalam produksi termasuk orang, barang, peralatan produksi dan metode produksi yang berguna untuk memberikan jaminan kualitas sesuai standar yang diberikan oleh perusahaan.
  9. Standard Operating Procedure (SOP), yaitu aktivitas operasianal yang baku yang wajib dilakukan pegawai dalam tahapan menjalankan proses kerjanya agar tercipta alur kerja yang lancar. 
  10. Jidoka (Human Automation), yaitu menghentikan proses secara otomatis saat terdapat produk cacat yang terdeteksi. Jidoka menghentikan proses secara otomatis dan segera memberi tahu pekerja. Para pekerja tersebut terlibat dalam proses otomatisasi guna menghasilkan produk berkualitas dengan mencegah cacat sehingga langkah atau tahapan proses dapat dilanjutkan.
  11. Maintenance and Safety, yaitu sistem produksi JIT memperhatikan pemeliharaan dan keamanan selama proses produksi untuk mencapai jumlah atau kapasitas produksi yang tinggi.


 

Keunggulan dan Kelemahan Just In Time

 

Just in time sering dianggap paling efektif dan menguntungkan untuk produksi manufaktur bervolume besar dan berulang. Meskipun demikian, terdapat beberapa alasan yang menyebabkan kurang berhasilnya JIT. Berikut di bawah ini adalah kelebihan dan kekurangan JIT.

1. Proses penerapan Just in Time dinamis

Yang berarti akan berjalan terus menerus mengatasi setiap masalah yang timbul sehingga akan menghasilkan perbaikan yang berkelanjutan (Continous Improvement). 

2. Memungkinkan pengurangan lead time secara terus menerus

Dengan menghilangkan setiap hambatan yang terjadi secara terus menerus maka dengan Just in Time dapat mengurangi lead time, sehingga akan meningkatkan ketanggapan dan keluwesan produksi. Perusahaan lebih tanggap dan mampu untuk beradaptasi ketika menghadapi perubahan.

3. Memungkinkan evaluasi terhadap pemasok

Sistem Just in Time memiliki pendekatan yang berbeda tentang pengendalian kualitas bila dibandingkan dengan pendekatan tradisional. Perusahaan akan mampu melakukan monitoring terhadap kualitas kinerja pemasoknya. Pekerja tidak menggunakan waktu untuk menyortir produk baik namun digunakan untuk mencegah terproduksinya bagian yang tidak baik.

4. Memungkinkan penghematan jumlah tenaga kerja

Standar pekerjaan digunakan kriteria guna mengidentifikasi kelebihan tenaga kerja yang tidak terpakai. Standar pekerjaan merupakan hasil dari permintaan pasar dan jumlah produksi harian.

5. Mampu menghilangkan aktivitas yang tidak perlu (no added value)

Perusahaan melakukan efisiensi biaya produksi, termasuk meminimalkan kerusakan mesin dan juga waktu yang diperlukan untuk perbaikan. 

 6. Meminimalkan Inventory

Penurunan persediaan pada sistem produksi dapat dicapai dengan memperpendek waktu persiapan atau memperkecil besaran lot pengiriman dari pemasok. Pemendekan persiapan atau pengiriman dimungkinkan, karena adanya perbaikan teknik produksi.

Dari kelebihan atau keunggulan yang bisa didapatkan dengan menerapkan sistem produksi just in time tersebut, perlu juga dipertimbangkan adanya kelemahan atau keterbatasan bila menerapkan produksi just in time, yaitu :

1. Perlu adanya kesamaan persepsi dan kesepakatan atau kontrak yang dibuat yang menyatakan bahwa produksi yang akan dijalankan menggunakan sistem JIT. Kesepakatan tersebut harus diketahui oleh semua pihak yang terlibat di dalamnya baik antara pihak manajemen dan pekerja maupun antara perusahaan dengan pemasok atau konsumen. Apabila tidak terjadi kesepakatan sebelumnya, dikhawatirkan akan mengalami hal-hal berikut ini:

  • Pemasok terlambat memasok barang, maka produksi akan terhenti karena tidak memiliki cadangan persediaan.
  • Antara pekerja dan manajemen tidak ada pengertian yang sama mengenai produksi just in time, maka sasaran yang telah ditetapkan tidak akan tercapai.
  • Antara perusahaan dengan pemasok terjadi keretakan, dimana masing-masing pihak melanggar ketentuan yang berlaku

2. Sistem produksi just in time menuntut para pekerja untuk bekerja lebih giat agar target tercapai. Jika diperlukan, bekerja lembur atau malam hari di luar jam kerja diperlukan agar volume produksi yang diminta pelanggan terpenuhi. 

3. Untuk mempercepat proses produksi, perusahaan membutuhkan pemasok yang tidak hanya mampu memasok bahan baku yang berkualitas, namun lokasinya dekat dengan pabrik sehingga keterlambatan pengiriman bahan baku dapat dihindari.

Itulah ulasan mengenai apa itu Just In Time (JIT) dalam sebuah produksi, bagaimana persyaratannya agar perusahaan dapat menerapkan (JIT), dan apa saja kelebihan dan kekurangannya. Penerapan strategi produksi Just in Time dapat dilakukan sejak proses rekayasa, pemesanan material dari supplier, manajemen material dalam industri, proses pabrikasi industri sampai distribusi produk pada konsumen. Semoga bermanfaat.

1 komentar:

  1. Terima kasih kak,artikelnya sangat bagus dan menarik sekali untuk menambah informasi,dan informasinya sangat bermanfaat.
    Perkenalkan saya Andini Indria Vinasty dari ISB Atma Luhur

    ReplyDelete