Konsep 5S atau 5R dan Contohnya

Usaha untuk meningkatkan mutu perusahaan harus dimulai dari dasar, yaitu budaya sikap kerja yang teratur. Salah satu budaya kerja yang wajib diterapkan oleh perusahaan adalah 5S, yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seikatsu, dan Shitsuke.

Apa itu konsep budaya 5S? Baca selengkapnya penjelasan berikut ini agar tempat kerja mu menjadi lebih bersih, nyaman, dan teratur sehingga produktivitas kerja kamu meningkat!



Budaya sikap kerja 5S ini muncul pertama kali di Jepang. Konsep 5S ini diterapkan saat training pegawai Toyota di tahun 1954 oleh Insinyur Jepang, Shingo Shiego (Japan Management Association). Kegiatan itu bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan keamanan produksi Toyota. Selanjutnya kosa-kata ini menyebar secara luas pada tahun 1980-an dan membudaya di masyarakat Jepang selama bertahun-tahun, khususnya selalu diajarkan kepada anak-anak.

Pengertian 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seikatsu, Shitsuke)

Budaya kerja 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seikatsu, Shitsuke) atau dalam bahasa Indonesia disebut atau bisa disebut 5R (ringkas, rapi resik, rawat dan rajin) adalah sebuah konsep yang dirancang untuk dapat mengurangi pemborosan yang dilakukan oleh karyawan di lingkungan kerjanya sehingga segala aktivitas perusahaan dapat berjalan dengan lancar dan efisien.

Perusahaan sangat perlu memperlajari dan menerapkan budaya kerja 5S ini. Ketika sukses diaplikasikan, perusahaan akan mampu menciptakan pekerja yang berdisiplin tinggi, mereka yang mampu menghargai waktu, dan mereka yang giat bekerja, teliti, hemat, bersahaja, dan berorientasi untuk sukses.

Penerapan budaya 5S memerlukan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang akan diikuti konsistensi seluruh staf yang bertugas untuk menjalankannya. Karena kembalinya juga kepada perusahaan, dimana ketika budaya 5S diterapkan, semakin efektif pekerjaan yang dilakukan, akan semakin cepat pula pekerjaan akan selesai dan akan mendapatkan apresiase dikarenakan pelayanan yang memuaskan.


Penjelasan 5S atau 5R Berikut dengan Contohnya

 

Penerapan budaya kerja 5S memang membutuhkan kesadaran oleh semua pihak. Tak ayal, sosialiasi tentang konsep 5S ini mutlak diperlukan. Untuk itu, berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing konsep 5S tersebut, Seiri, Seiton, Seiso, Seikatsu, dan Shitsuke.

 A. Budaya Kerja Seiri 

Budaya kerja seiri merupakan kegiatan memilah berkas-berkas yang ada di kantor untuk menentukan mana berkas yang sungguh-sungguh masih dipakai untuk kebutuhan kantor. Pekerja akan menyingkirkan berkas yang sesungguhnya merupakan sampah yang tidak dipakai lagi. 

Setiap karyawan bertanggung jawab untuk memisahkan antara barang yang diperlukan dan yang tidak. Dan jika terdapat barang-barang yang tidak diperlukan, maka sebaiknya dibuang.

Adapun indikator yang dipergunakan mengukur budaya kerja seiri adalah:

  • Pemilahan berkas yang masih dipergunakan dan berkas yang sudah merupakan sampah, pengklarifikasian berkas.

Perusahaan harus bertindak tegas dalam menerapkan manajemen stratifikasi , dimana untuk menyingkirkan yang tidak diperlukan .


B. Budaya Kerja Seiton
 

Budaya kerja Seiton merupakan kegiatan penentuan tata letak penyimpanan barang agar semuanya tertata rapi dan benar. Ketika sudah menerapkan budaya kerja yang satu ini, siapapun tidak akan kesulitan dalam mencari ketika ingin menggunakan barang yang diperlukan.

Pegawai dikatakan telah melaksanakan budaya kerja Seiton apabila mereka melakukan kegiatan yang biasa dilakukan dengan menyusun rapi berkas-berkas yang ada untuk mempermudah penemuan kembali bila diperlukan. 

Indikator yang dipergunakan untuk mengukur budaya kerja Seiton  ini adalah: 

  • Menata berkas yang ada di kantor; dan
  • Menyusun benda dengan cara yang rapi sesuai urutan kegunaannya dan frekuensi penggunaannya.

Sebagai tanggung jawab pribadi, setiap karyawan mengatur, menyusun benda dengan cara yang rapi, dan mengenali benda sehingga setiap orang dapat menemukannya dengan cepat.


C. Budaya Kerja Seiso
 

Budaya kerja Seiso merupakan kegiatan memeriksa dan menjaga kebersihan kondisi lingkungan atau peralatan yang dipergunakan agar selalu bersih sebelum dan sesudah penggunaan.

Karyawan yang menerapkan budaya kerja Seiso ini akan selalu menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan kerjanya, sehingga tercipta kenyamanan kerja.

Adapun indikator yang dipergunakan untuk mengukur budaya kerja Seiso adalah:

  • Membersihkan lingkungan kerja; dan
  • Mencari sumber penyebab kotor.


Para pekerja tidak cukup mengandlkan kepada petugas cleaning service (CS), mereka harus selalu menjaga kebersihan dan kerapian tempat kerjanya, sehingga terbebas dari debu, sampah, dan kotoran
 

D. Budaya Kerja Seiketsu
 

Budaya kerja Seiketsu merupakan kegiatan memelihara tempat kerja yang sudah baik agar dapat selalu terpelihara. 

Untuk dapat menerapkannya, perusahaan menetapkan standar (pembakuan) penataan. Standar penataan tersebut kemudian disosialisasikan kepada semua karyawan agar dapat melaksanakan aktivitas dengan cara yang sama/seragam dan menjaga tempat kerja agar selalu terpelihara. 

Adapun indikator yang dipergunakan untuk mengukur budaya kerja Seiketsu adalah:

  • Memelihara tempat kerja;
  • Membuat struktur tugas dan tanggung jawab; dan
  • Mematuhi peraturan.

Para pekerja dikatakan telah menjalankan budaya kerja seiketsu, apabila mereka selalu melakukan 3s sebelumnya secara kontinu. Para pekerja selalu menjaga kebersihan tempat kerjanya. Contohnya menjaga tempat kerja agar tetap bersih tanpa sampah, kotoran, tetesan tinta ataupun minyak.
 

E. Budaya Kerja Shitsuke
 

Budaya kerja Shitsuke adalah menjalankan sesuatu aktivitas dalam kantor dengan benar sebagai bentuk sebagai kebiasaan. 

Agar para pekerja terbiasa mentaati aturan atau disiplin, para pekerja diberi motivasi agar terus menerus melakukannya. Perusahaan memberikan pelatihan untuk meningkatkan skills sehingga mereka mampu menjalankan tugasnya, meskipun hal itu sulit dilakukan.

Budaya kerja Shitsuke menuntut para pegawai mentaati aturan dan prosedur kerja yang telah ditentukan sehingga menjadi suatu kebiasaan. Jika tidak melakukannya, mereka akan merasa ada yang kurang.

Indikator yang dipergunakan untuk mengukur budaya kerja Shitsuke adalah:

  • Disiplin menerapkan 5S; dan
  • Disiplin mentaati aturan kerja. 


Kesimpulan

Budaya kerja 5S atau 5R memiliki tujuan diantaranya adalah; 

  1. Penerapan budaya seiri memiliki tujuan agar karyawan mengoptimalkan lingkungan kerja yang ada dan yang dapat digunakan saja.
  2. Penerapan budaya Seiton memiliki tujuan untuk mempermudah karyawan dalam mencari barang atau benda kantor yang dibutuhkan di kemudian hari, terutama jika dicari oleh rekan kerja lainnya yang sebelumnya tidak mengetahui lokasi penyimpanannya.
  3. Penerapan budaya Seiso memiliki tujuan agar karyawan menjaga dan memelihara area kerjanya agar tetap bersih.
  4. Penerapan budaya Seikatsu memiliki tujuan untuk menciptakan konsistensi implementasi 3S sebelumnya, yaitu seiri, seiton, dan seiso.
  5. Penerapan budaya Shitsuke memiliki tujuan untuk menjamin keberhasilan dari kontinuitas program 5S sebagai suatu disiplin kerja sehingga menjadi budaya.

0 komentar

Post a comment