Lean Manufacturing: Tujuan, Manfaat, Prinsip, dan Parameter Penerapan Lean

Dalam sistem produksi, perusahaan terus berupaya memberikan terbaik untuk konsumen atau pelanggannya. Dan salah satu yang dapat ditempuh oleh perusahaan adalah penerapan lean manufacturing dalam sistem produksinya sehingga produktivitas menjadi lebih efektif dan efisien. 

Pihak konsumen akan selalu memperhatikan dan mengevaluasi produk barang atau jasa dengan melihat seberapa baik produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan mereka. Mereka tentunya tidak ingin membayar produk barang atau jasa yang kualitasnya buruk. Perusahaan harus bekerja keras dengan metode continuous improvement, yaitu tindakan perbaikan secara bertahap dan dilakukan terus menerus. Untuk itu, dibutuhkan lah lean manufacturing.


 

Apa itu Lean Manufacturing?


Lean manufacturing atau dikenal pula dengan nama Toyota Production System adalah salah satu filosofi dari Toyota yang berarti mengeliminasi muda (pemborosan), mura (ketidakteraturan) dan muri (ketidakseimbangan beban kerja) di dalam rantai pasokan (supply chain management) sehingga produk sampai di tangan konsumen.

Penemu lean manufacturing, Taiichi Ohno, mendefinisikan Toyota Production System ini sebagai segala aktivitas yang mengarah pada penjadwalan (timeline), yang dimulai sejak terdapat permintaan dari customer sampai dengan produsen memperoleh uang dari transaksi penjualannya. 

Lean manufacturing menuntut perusahaan untuk fokus pada pengurangan timeline dengan mengeliminasi pemborosan yang tidak memberi nilai tambah (non value added).

Tujuan Lean Manufacturing


Penerapan lean manufacturing pada suatu sistem produksi memiliki beberapa tujuan, yaitu:

  • Untuk mengurangi pemborosan (waste) di semua aspek produksi atau dalam rantai pasokan.
  • Untuk meningkatkan kualitas output (keluaran) atau produknya dan produktivitas.
  • Untuk memperpendek lead time (waktu yang dibutuhkan dalam produksi)

 

Manfaat Lean Manufacturing


Lean manufacturing menjadi strategi terobosan yang memungkinkan perusahaan mendapatkan banyak manfaat, seperti berikut ini:

  • Mampu menekan biaya produksi sehingga harga jual produk bisa lebih rendah dan dapat bersaing dengan kompetitor. 
  • Mampu meningkatkan produktivitas produksi perusahaan
  • Mampu memenuhi lonjakan permintaan dari para pelanggan. 
  • Mampu meningkatkan efisiensi proses dalam menghasilkan produk.


Prinsip Lean Manufacturing



Tujuan lean manufacturing di atas menggambarkan bahwa penerapan lean manufacturing di sebuah perusahaan setidaknya harus memiliki 3 prinsip dasar, yaitu:

1. Define Value Principle

Perusahaan dalam mendefinisikan nilai suatu produk berdasarkan pada kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Produsen menggunakan konsep QCDS (Quality, Cost, Delivery, and Service) + PME (Productivity, Motivation, and Environment) untuk menghasilkan produk barang atau jasa berkualitas superior dan penyerahan atau distribusinya tepat waktu.

  • Quality (Q), yaitu komitmen perusahaan untuk memproduksi produk barang atau jasa berkualitas tinggi secara konsisten.
  • Cost (C), yaitu perusahaan dalam memproduksi barang atau jasanya berkualitas tinggi, namun dengan biaya yang efektif.
  • Delivery (D), yaitu komitmen perusahaan untuk melakukan pengiriman tepat waktu kepada pelanggan.
  • Service (S), yaitu komitmen perusahaan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.


2. Waste Elimination Principle

Dalam proses produksi perusahaan harus menghilangkan pemborosan dengan cara meminimalkan segala aktivitas yang tidak memberikan kontribusi dalam peningkatan nilai produk di mata pelanggan. Terdapat 8 jenis pemborosan (waste) yang perlu ditekan oleh perusahaan manufaktur, yaitu :

  • Pemborosan biaya transportasi, yaitu biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk kegiatan pengangkutan yang tidak dibutuhkan.
  • Pemborosan gerakan, penangannanya yaitu perusahaan perlu menerapkan budaya kerja 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seikatsu, Shitsuke) sehingga para pekerja tidak banyak membuang waktu untuk mencari atau bekerja yang tidak efisien dan tidak ergonomis.
  • Pemborosan kelebihan persediaan, yaitu jumlah stok atau persediaan yang berlebihan dan justru tidak berguna. Biasanya untuk mengatasinya perusahaan menggunakan konsep just in time (JIT) dalam sistem produksinya.
  • Pemborosan menunggu, yaitu terhambatnya aktivitas produksi dikarenakan menunggu barang untuk didatangkan dari supplier atau menunggu alat atau mesin yang tengah bekerja.
  • Pemborosan kelebihan produksi, yaitu jumlah produk yang dihasilkan melebihi permintaan pelanggan sehingga sisa produk tidak terserap atau terjual.
  • Pemborosan proses, yaitu penambahan tahapan proses produksi yang tidak menambah nilai produk dan bahkan malah menambah biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.
  • Pemborosan defect, yaitu produksi yang menghasilkan produk cacat karena minimnya pengendalian kualitas.
  • Pemborosan keterampilan, yaitu pihak perusahaan tidak memberdayakan skill atau kemampuan stafnya secara tepat.


3. Support the Employee

Perusahaan memberdayakan seluruh karyawannya sehingga produktivitas kinerjanya meningkta. Mereka perlu diberikan pendidikan dan pelatihan untuk memahami metode lean manufacturing karena karyawanlah yang menjalankan operasional harian produksi.

Parameter Lean Manufacturing


Perusahaan sebaiknya mengidentifikasi kemungkinan pemborosan atau waste yang ada pada keseluruhan tingkat proses. Berikut ini adalah parameter yang dapat diidentifikasi oleh perusahaan agar tercipta keadaan yang lean antara lain:

  1. Inventory, yaitu persediaan atau simpanan cadangan, baik berupa bahan baku, work in process, atau finished goods dalam periode waktu tertentu.
  2. Raw material, yaitu bahan baku yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk.
  3. Work in Process (WIP), yaitu produk yang belum selesai mengalami proses manufaktur secara lengkap. Biasanya karena masih menunggu proses selanjutnya.
  4. Finished goods (FG), yaitu produk jadi yang telah mengalami proses tahapan produksi dan siap untuk didistribusikan kepada pelanggan.
  5. Scrap, yaitu hasil sisa produksi yang tidak memiliki nilai ekonomis atau hasil sisa produksi yang tidak dapat didaur ulang.
  6. Headcount, yaitu jumlah operator yang bertugas pada suatu proses.
  7. Transportation, yaitu jarak dan waktu ditempuh suatu produk dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain.
  8. Changeover time, yaitu waktu pergantian yang dibutuhkan untuk memproduksi satu tipe produk  ke tipe produk yang lain.
  9. Setup time, yaitu waktu yang dibutuhkan mesin atau operator untuk dari awal seting mesin sampai menghasilkan satu unit produk.
  10. Uptime, yaitu persentase waktu yang tersedia saat proses produksi pada mesin.
  11. Cycle time, yaitu waktu yang dibutuhkan oleh suatu mesin atau operator untuk membuat suatu produk.
  12. Lead time, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk, dari awal kegiatan unloading material sampai loading produk jadi.


Itulah ulasan mengenai konsep lean manufacturing dalam sistem produksi. Lean manufacturing dalam sistem produksi menjadi suatu konsep operasional suatu perusahaan yang bertujuan untuk mengeliminasi pemborosan (waste) dan menghasilkan nilai lebih dalam proses produksi dengan target untuk peningkatan kualitas dan kecepatan kepada konsumen. Semoga bermanfaat.

0 komentar

Post a comment