Pengertian Rapid Application Development, Tahapan, Kelebihan, dan Contoh Penerapannya

Author -  Admin Pengadaan

Pembuatan perangkat lunak atau software dapat dilakukan dengan berbagai metode. Salah satunya adalah Rapid Application Development (RAD). Rapid Application Development adalah proses pengembangan software yang tergolong dalam teknik bertingkat atau incremental.

Teknik pembuatan software tersebut pertama kali digunakan pada tahun 1980-an oleh IBM. Saat itu, permintaan perangkat lunak semakin meningkat sehingga IBM perlu mengaplikasikan proses pembuatan software yang lebih cepat, seperti RAD ini.




Pengertian Rapid Application Development Adalah


Rapid application development jika di artikan dalam Bahasa Indonesia bermakna pengembangan aplikasi cepat. Metode pengembangan software cepat ini adalah gabungan dari dua metode lainnya, yaitu Prototype Mode dan Interval Model

Seperti namanya, rapid application development adalah metode pengembangan perangkat lunak yang didesain untuk diterapkan secara cepat. Dengan menggunakan RAD, software developer mampu mendesain dan mengimplementasikan sistem informasi dalam waktu 60 hingga 90 hari saja. 

Rapid application development juga dapat diartikan sebagai metode pengembangan software yang memakai pendekatan berorientasi objek untuk pengembangan sistem perangkat maupun perangkat lunak.

Selain tergolong sebagai teknik incremental, RAD juga tergolong sebagai metode berulang atau iterative. Sehingga, dalam pengembangan sistemnya, working model sistem dibangun pada awal proses pengembangan.

Hal ini dilakukan untuk menetapkan kebutuhan pengguna. Nantinya, bagian yang tidak dibutuhkan oleh pengguna akan disingkirkan. Untuk mengetahui mana yang perlu dihilangkan dan mana yang tidak, developer memerlukan feedback dari user atau stakeholder yang memesan software tersebut.

Metode dan Tahapan Pembuatan Software dengan RAD




Proses pengembangan software dengan RAD harus melalui beberapa tahapan atau fase. Tahapan rapid application development adalah sebagai berikut.


1. Business Modeling

Tahap ini merupakan tahap perancangan dari pengembangan produk. Perancangan tersebut dilakukan berdasarkan informasi serta distribusi informasi antar saluran bisnis.


Untuk memperoleh informasi dalam fungsi bisnis tersebut, tim developer perlu menanyakan pertanyaan di bawah ini.


  • Informasi apa saja yang mengendalikan proses bisnis?
  • Informasi apa saja yang akan dimunculkan?
  • Siapa yang akan memunculkan informasi tersebut?
  • Ke mana informasi tersebut disalurkan?
  • Siapa yang memproses informasi tersebut?


Dengan menanyakan pertanyaan tersebut, tim developer akan memperoleh informasi penting tentang bisnis tersebut dan mengetahui bagaimana cara memprosesnya. 

Fase business modelling juga berkaitan dengan identifikasi faktor-faktor yang membuat informasi berhasil disampaikan. 


Di tahap ini, kerja sama dan komunikasi antara developer dan stakeholder/klien sangat dibutuhkan untuk mengidentifikasi kebutuhan klien sehingga pengembangan sistem berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan stakeholder.


2. Data Modeling


Pada tahap kedua ini, tim developer menganalisa informasi yang diperoleh pada tahap sebelumnya. Informasi atau data tersebut akan diidentifikasi dan didefinisikan secara terperinci. Sehingga, tim developer nantinya akan memperoleh model bisnis yang tepat.


3. Process Modeling


Setelah melakukan tahap data modelling, tim developer akan menerapkan arus informasi bisnis agar mendapat suatu tujuan bisnis yang lebih spesifik dan sesuai dengan model bisnis. Mereka juga akan membagi proses pengembangan dalam beberapa bagian atau modul. 


Pada tahap ini, tim developer juga akan melakukan proses penyempurnaan dan perubahan objek-objek tertentu yang telah dikumpulkan. Selain itu, tahap ini juga memiliki kaitan dengan deskripsi proses yang selanjutnya akan dipakai untuk memodifikasi data yang diberikan.


Proses modifikasi ini dilakukan dengan menghapus, mengubah, menambah, serta mengambil objek data tersebut. 


4. Application Generation

Tahap application generation erat kaitannya dengan penggunaan automatic tools untuk membangun sistem. Di tahap ini, data dan process modelling akan diubah menjadi prototype yang aktual.

Selain mengembangkan prototype aplikasi atau software, tim developer terus melakukan integrasi dengan bagian lain dan menggunakan feedback dari klien/user. 

Dengan demikian, perangkat lunak ini nantinya sesuai kebutuhan stakeholder. Jika sudah sesuai dengan keinginan stakeholder, maka tahap berikutnya akan dilakukan.

5. Testing and Turnover


Tahap testing and turnover adalah tahap pengujian sistem yang sebelumnya telah dibuat. Komponen dari perangkat lunak ini akan diuji secara menyeluruh dan lengkap. Dengan demikian, perangkat lunak tersebut benar-benar sempurna dan bebas kendala saat dipakai.


Kelebihan dan Kekurangan RAD




Rapid application development menawarkan beberapa kelebihan. Meski demikian, metode pengembangan perangkat lunak ini juga memiliki kekurangan. 

Kelebihan RAD

RAD menawarkan kelebihan di bawah ini.

  • Waktu pengembangan perangkat lunak lebih cepat, hanya sekitar 60 hari dan maksimal 90 hari.
  • Biaya relatif lebih terjangkau karena waktu pengerjaannya lebih singkat.
  • Cocok untuk proyek skala besar
  • Penyesuaian keinginan dan kebutuhan user dapat dilakukan dengan lebih mudah.
  • Kemungkinan kesalahan dapat diperkecil.
  • Integrasi proses dapat dilakukan dengan lebih efektif dan cepat.
  • Dapat memakai kembali komponen yang ada sebelumnya (reusable object) sehingga developer tidak perlu mengembangkan komponen perangkat lunak dari awal.
  • Progress development bisa diukur.
  • Perubahan sistem mudah diakomodasi.
  • Cocok untuk sistem yang berbasis komponen serta terukur.


Kekurangan RAD

Dengan mengetahui kekurangan RAD, developer dapat melakukan langkah antisipasi untuk meminimalisir dampak dari kekurangan RAD tersebut. Kekurangan rapid application development adalah sebagai berikut.

  • Membutuhkan developer yang telah berpengalaman dan dalam jumlah besar, apalagi jika proyek yang dikerjakan dalam skala besar.
  • RAD tidak cocok untuk sistem yang tidak bisa dimodularisasi karena pengerjaan sistem harus dibagi menjadi beberapa modul agar berjalan lebih cepat.
  • Memerlukan manajemen yang kompleks.
  • Memerlukan kolaborasi tim developer yang kuat.
  • Memerlukan komitmen yang kuat antara klien dan developer.
  • Risiko teknis cukup tinggi.


Contoh Penerapan RAD


Penerapan RAD telah dilakukan dalam beberapa sistem. Salah satunya adalah sistem informasi pemasaran rumah untuk perumahan nasional. Dalam pembuatan perangkat lunak ini, dibutuhkan informasi mengenai rumah, pemasaran rumah, dan konsumen.


Informasi tersebut diperoleh dari laporan konstruksi pembangunan perumahan, laporan konsumen, dan laporan pemasaran rumah. Selanjutnya, laporan tersebut diinput oleh administrator menjadi data yang nantinya akan ditampilkan pada sistem informasi.


Sistem informasi tersebut tidak hanya dapat diakses oleh administrator, tapi juga oleh calon pembeli. Antar muka untuk halaman administrator tentu saja berbeda dengan antar muka untuk halaman calon pembeli.


Pada halaman yang ditujukan untuk administrator terdapat menu login dan form isian untuk memasukkan data yang akan di-share kepada calon pembeli. Sedangkan, halaman yang ditujukan untuk calon pembeli berisi informasi lengkap mengenai unit perumahan yang ditawarkan.


Rapid application development adalah metode pengembangan perangkat lunak yang sudah lama ada. RAD memungkinkan developer untuk mengembangkan software dengan lebih cepat. Sayangnya, metode ini hanya bisa diaplikasikan untuk software yang dapat dibagi dalam bentuk modul.

0 komentar

Post a Comment