Contoh Studi Kasus Metode Double Moving Average, Kelebihan Kekurangan, Dan Cara Menghitung

Author -  Admin Pengadaan

Metode Double Moving Average adalah salah satu metode peramalan atau forecasting dalam jangka pendek yang dikembangkan dari metode Single Moving Average. Peramalan memainkan peranan penting dalam kehidupan seperti pada bisnis yang harus dapat meramalkan demand di masa mendatang. 


Peramalan yang baik harus dapat meminimalisir kesalahan yang timbul berupa kekeliruan hasil ramalan terhadap fakta yang terjadi. Namun, dari semua metode peramalan yang ada, tidak semua metode bisa digunakan dalam berbagai kasus. Beberapa metode peramalan hanya cocok untuk kasus tertentu saja. 



Apa itu Metode Double Moving Average?


Metode Double Moving Average adalah metode peramalan atau forecasting pada pola data waktu tertentu dalam jangka pendek sehingga dapat mengatasi tren yang ada. Double Moving Average atau dikenal sebagai metode rata-rata bergerak ganda merupakan perkembangan dari Single Moving Average.


Metode rata-rata bergerak ganda dikembangkan dari metode rata-rata bergerak tunggal dikarenakan metode rata-rata bergerak tunggal tidak bisa mengatasi unsur trend yang muncul saat digunakan untuk meramal periode yang akan datang. 


Perbedaan Single Moving Average dan Double Moving Average



1. Cara Perhitungannya

Metode Single Moving Average merupakan metode peramalan perataan nilai dengan cara menggunakan sekelompok nilai yang dihitung nilai rata-ratanya. Nilai rata-rata tersebut selanjutnya digunakan sebagai ramalan. 


Nilai observasi paling lama dibuang dan diganti nilai observasi baru untuk didapatkan nilai rata-rata baru. Hal ini berbeda dengan double moving average yang menggunakan data dari Single Moving Average kemudian dilakukan prosedur moving average sebanyak 2 kali sehingga disebut double moving average.


2. Single Moving Average Tidak Bisa Menghitung Unsur Trend


Perbedaan metode rata-rata bergerak ganda dan metode rata-rata bergerak tunggal adalah metode rata-rata bergerak tunggal tidak dapat digunakan untuk menganalisa adanya unsur trend dari peramalan untuk periode mendatang. 


Kelebihan dan Kekurangan Double Moving Average


Metode rata-rata bergerak ganda adalah pengembangan dari metode Single Moving Average. Metode ini memiliki beberapa keuntungan dan kelemahan sebagai berikut:

  • Double Moving Average menggunakan perhitungan dua kali metode rata-rata bergerak pertama sehingga dapat mengatasi adanya unsur trend dengan lebih baik. 
  • Hasil lebih stabil


Sementara kekurangan metode ini adalah:

  • Membutuhkan data sangat banyak di masa lampau. 
  • Lambat dalam merespon perubahan data yang terjadi di pasar.


Rumus dan Cara Menghitung


Langkah-langkah dalam melakukan peramalan menggunakan metode Double Moving Average harus melibatkan perhitungan nilai Single Moving Average terlebih dahulu. Hanya diperlukan sekitar 4 langkah saja untuk menghitung dengan metode Double Moving Average. Berikut penjelasan langkah-langkahnya:


1. Menghitung Nilai Rata-Rata Bergerak Pertama (Single Moving Average)


Lakukan perhitungan nilai single moving average disesuaikan dengan periode yang diinginkan.

Berikut adalah persamaan yang digunakan untuk menghitung nilai Single Moving Average:

S’ = (Xt - Xt-1 + Xt-2 + … + Xt-k-1)/k

Keterangan:

k = orde waktu yang akan digunakan (periode)

X = data aktual


Pada langkah yang pertama ini, Anda harus menghitung nilai rata-rata data aktual sesuai jumlah periode yang digunakan.


2. Menghitung Nilai Double Moving Average


Setelah mendapatkan nilai Single Moving Average (SMA), langkah berikutnya adalah menghitung nilai Double Moving Average. Nilai rata-rata kedua bergerak dihitung berdasarkan nilai rata-rata pertama bergerak yang diperoleh sebelumnya. Berikut persamaan yang digunakan:

S’’ = (St - St-1 + St-2 + … + St-k-1)/k

S adalah nilai rata-rata pertama bergerak. 


3. Menghitung Nilai Konstanta at dan Koefisien bt


Setelah nilai rata-rata kedua bergerak didapatkan (S”), langkah selanjutnya adalah menemukan nilai koefisien at dan nilai koefisien trend (bt) menggunakan persamaan di bawah ini:

at = 2 S’t – S”t

bt =  2/(k - 1) (S’t – S”t)


Konstanta at adalah nilai a ke t sementara koefisien trend bt adalah nilai koefisien b ke t. 


4. Menentukan Besar Nilai Peramalan


Langkah terakhir dari metode Double Moving Average adalah menghitung besar nilai peramalan dengan menjumlahkan nilai koefisien trend (bt) dengan nilai konstanta (at). Berikut persamaan yang digunakan:

Ft = at + bt . m


Diketahui variabel m adalah periode peramalan di masa mendatang yang diinginkan. Ft merupakan period eke depan yang diramalkan. 


Contoh Studi Kasus Penggunaan Metode Double Moving Average


1. Sebuah perusahaan skincare bernama PT. Mahkota Indah Sejahtera secara rutin memproduksi sabun muka setiap bulannya. Namun, manajer PT. Mahkota Indah Sejahtera memiliki persoalan saat harus merencanakan permintaan produksi sabun muka di bulan Januari 2022. 

Untuk menghitung berapakah perkiraan permintaan terhadap produksi sabun muka di bulan Mei 2022, maka bisa digunakan teknik double moving average. 

Jawab:


Bulan

Permintaan

Januari

240

Februari

250

Maret

234

April

240

Mei

280

Juni

260

Juli

300

Agustus

270

September

290

Oktober

275

November

310

Desember

285



Nilai single moving average dihitung pada periode 3 bulan seperti di bawah ini:

MA 3 bulan = (240 + 250 + 234) / 3 = 241,3


Nilai single moving average dihitung dengan cara yang sama hingga pada bulan Desember. Langkah berikutnya adalah menghitung nilai double moving average. Caranya sebagai berikut:


(241,33 + 256,67 + 243,33) / 3 = 247,11


Setelah nilai double moving average diperoleh, langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah menghitung nilai konstanta a sehingga bisa digunakan pada metode peramalan. 


at = 2 Mt – Mt’


Misalnya nilai koefisien a pada bulan Mei dihitung dengan cara berikut:


at = 2 (256,67) – 247,11 = 266,22


Nilai koefisien a terus dihitung hingga bulan Desember. Langkah berikutnya menghitung nilai koefisien trend bt pada bulan Mei dengan rumus berikut:


bt = (2/(n - 1)) x (Mt – Mt’)

bt = (2/(3 - 1)) x (256,67 – 247,11) = 9,56


Nilai koefisien bt terus dihitung hingga bulan Desember. Selanjutnya menghitung nilai Ft + 1 yang merupakan peramalan produksi sabun muka. Rumus Ft + 1 = at + bt dengan nilai t = 1. Hasil peramalan ditempatkan di bulan Juni. 

F (1) + 1 = 266,22 (1) + 9,56 (1) = 275,78

Ft (Januari 2022) = 292,22

Jadi, perkiraan permintaan sabun muka pada Januari 2022 sebanyak 293 buah.


Metode Double Moving Average merupakan metode peramalan untuk menghitung nilai suatu data di periode mendatang. Metode rata-rata bergerak ganda merupakan pengembangan dari metode single moving average yang digunakan pada bisnis dalam memperkirakan permintaan di periode mendatang.

0 komentar

Post a Comment