2025-08-12

Saatnya SIPAK Hadir di KRL: Solusi untuk Kenyamanan dan Keamanan Penumpang

Author -  Lubis Muzaki

Ilustrasi: Kepadatan Penumpang KRL di Jam Sibuk


Commuter Line atau Kereta Rel Listrik (KRL) telah menjadi urat nadi transportasi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Setiap hari, jutaan orang bergantung padanya untuk beraktivitas, dari pekerja, pelajar, hingga pedagang kecil. Namun, di balik efisiensi dan keterjangkauannya, sistem ini menyimpan persoalan besar yang terus berulang: kenyamanan dan keamanan penumpang yang kerap dikorbankan karena kepadatan yang tidak terkendali. Bahkan, di beberapa waktu terakhir ini kepadatannya dinilai kian lebih parah.

Di jam-jam sibuk, penumpang dipaksa berdesakan dalam gerbong yang penuh sesak. Bukan sekadar tidak nyaman, kondisi ini juga membuka celah bagi tindakan kriminal seperti pelecehan seksual. Dalam ruang sempit dan terbatas, sering kali korban tidak mampu bergerak, apalagi melapor. Upaya seperti gerbong khusus wanita memang memberikan ruang aman bagi sebagian penumpang perempuan. Namun, keberadaan solusi ini tetap bersifat terbatas karena tidak menyentuh akar persoalan, yaitu padatnya jumlah penumpang yang melampaui kapasitas tanpa sistem pengaturan arus yang efisien dan terukur.

Tak hanya itu, tempat duduk prioritas yang disediakan untuk lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas sering kali tidak dapat diakses oleh mereka yang berhak, karena sulitnya bergerak di tengah gerbong yang padat. Akibatnya, prinsip keadilan dan inklusivitas dalam transportasi publik bisa dibilang masih dalam bentuk slogan.

Masalah-masalah ini berakar dari satu hal yang belum terselesaikan: tidak adanya sistem yang mampu mengelola kepadatan penumpang secara dinamis dan adaptif.

SIPAK: Sistem Pengaturan Kepadatan untuk Transportasi Publik KRL

Dari permasalahan di atas, sudah waktunya kita memperkenalkan pendekatan baru yang berfokus pada pengelolaan arus penumpang berbasis teknologi, tanpa menutup akses publik. Solusinya adalah dengan penerapan SIPAK – Sistem Pengaturan Kepadatan.

Berbeda dengan sistem reservasi tempat duduk atau KRL Premium yang pernah diusulkan namun akhirnya dibatalkan karena dinilai diskriminatif (Tempo.co, 2018), SIPAK tidak membatasi akses siapa pun. Sistem ini tetap mempertahankan keterbukaan layanan KRL, tetapi menerapkan dynamic pricing berdasarkan kondisi riil kepadatan gerbong dan jalur.

Selain dinilai diskriminatif, sistem reservasi duduk tersebut tidak akan cukup efisien untuk menangani arus masuk keluar cepat di stasiun-stasiun padat seperti Sudirman, Manggarai, Tanah Abang, Bekasi, Bogor, dan beberapa stasiun lainnya. Tidak ada cukup waktu untuk memverifikasi tiket, memeriksa kursi, atau menertibkan penumpang sesuai jadwal seperti di kereta jarak jauh.

Nah, Sistem Pengaturan Kepadatan atau SIPAK dengan skema dynamic pricing ini bekerja dengan cara:

1. Pengumpulan Data Kepadatan

SIPAK memanfaatkan kombinasi data dari tap in–tap out kartu elektronik atau NFC (Near Field Communication) penumpang, sensor di gerbong, dan sistem pemantauan kamera atau AI di stasiun. Dari data ini, sistem dapat mengidentifikasi titik-titik dan waktu "zona padat", misalnya Manggarai–Sudirman antara pukul 07.00–09.00.

2. Penentuan Zona dan Waktu Padat

Berdasarkan pemrosesan di pusat data, sistem akan menandai waktu dan rute mana yang sedang atau berpotensi padat. Informasi ini diperbarui secara berkala dan dapat dilihat pengguna melalui aplikasi resmi atau layar digital di stasiun.

3. Penetapan Tarif SIPAK

Saat pengguna keluar dari stasiun (tap out), sistem akan mengecek apakah ia telah melewati zona padat tersebut. Jika ya, maka SIPAK fee akan otomatis ditambahkan ke tarif dasar.

Sebaliknya, pengguna yang bepergian di luar waktu padat atau rute padat tidak dikenakan biaya tambahan sama sekali.

4. Transparansi & Perencanaan

Sebelum berangkat, penumpang dapat mengecek estimasi biaya lewat aplikasi. Sistem ini memungkinkan pengguna yang fleksibel waktu atau rute untuk menghindari zona padat dan menghemat ongkos.


Agar SIPAK dapat bekerja lebih optimal, sistem ini perlu dilengkapi dengan opsi pengalihan arus penumpang secara fisik, bukan hanya ekonomis. Salah satu caranya adalah dengan menghadirkan layanan Shuttle Decongestion, yaitu angkutan khusus yang melayani penumpang dari stasiun sebelum titik padat menuju pusat aktivitas utama seperti kawasan perkantoran atau komersial.

Contohnya, jika sistem SIPAK mendeteksi bahwa Stasiun Manggarai terlalu padat pada pukul 07.00–09.00, maka sistem akan memberikan opsi kepada penumpang dari arah Bogor untuk turun lebih awal di Stasiun Tebet, dan melanjutkan perjalanan menggunakan shuttle resmi yang telah terjadwal dan terintegrasi. Shuttle ini akan mengantarkan langsung ke titik-titik strategis seperti SCBD, Kuningan, atau Senayan.

Shuttle ini tidak hanya mengurangi penumpukan di stasiun padat, tetapi juga menawarkan dua insentif langsung bagi penumpang:

Pertama, pengguna yang beralih ke shuttle terintegrasi terhindar dari tarif tambahan SIPAK karena tidak memasuki zona padat.

Kedua, waktu perjalanan lebih efisien karena menghindari antrean keluar stasiun dan perebutan tempat di gerbong KRL.

Agar keputusan beralih mudah diambil, aplikasi SIPAK sebaiknya menyediakan informasi real-time termasuk: rute shuttle, estimasi waktu tempuh, dan perbandingan biaya. Dengan demikian, penumpang dapat memilih opsi terbaik sebelum berangkat.

Untuk memastikan efektivitas shuttle, kajian mendalam diperlukan guna menentukan: (1) sumber armada tambahan di peak hour, (2) skema subsidi yang membuat biaya shuttle tetap lebih rendah dari SIPAK fee, dan (3) rute dedicated guna menghindari kemacetan jalan umum.

Dengan SIPAK dan layanan Shuttle Decongestion, harapannya distribusi penumpang akan lebih merata, risiko penumpukan berkurang, dan ruang gerak dalam gerbong menjadi lebih manusiawi. Sistem ini juga bisa dikembangkan lebih lanjut menjadi alat prediksi untuk pengelola KRL dalam menyesuaikan jumlah rangkaian atau frekuensi perjalanan sesuai kebutuhan nyata.

Tentu saja, keberhasilan SIPAK membutuhkan kesiapan infrastruktur: sensor kepadatan real-time, sistem backend untuk menghitung tarif adaptif, dan aplikasi mobile yang informatif. 

SIPAK tidak mengubah filosofi KRL sebagai transportasi publik yang terbuka, setara, dan murah. Namun ia menawarkan pendekatan cerdas untuk menjawab tantangan masa kini: membagi beban secara kolektif dan sukarela, tanpa membatasi akses. Dengan teknologi yang mengandalkan sensor, data tap kartu, dan pemrosesan digital—SIPAK dapat menjadi solusi yang lebih adil dan efektif dibanding sistem reservasi atau gerbong premium.


Sumber:


1. Tempo.co. 2018, Desember 24. PT KCI batalkan rencana kereta KRL premium. https://www.tempo.co/ekonomi/pt-kci-batalkan-rencana-kereta-krl-premium-785937

0 komentar

Post a Comment