2025-08-12

Gerbong Sunyi yang Dilengkapi Meja Kerja dan Harapan yang Terlalu Personal

Author -  Lubis Muzaki



Ada satu jenis penderitaan di muka bumi ini yang tak pernah diajarkan di sekolah atau ditulis di kitab suci: duduk di gerbong kereta sambil mencoba menyelesaikan kerjaan kantor, sementara di belakangmu ada anak kecil yang sedang cosplay jadi sirine ambulans. Lengkap dengan efek suara dan lonjakan emosi setiap lima menit. Saya percaya anak-anak adalah anugerah. Tapi anugerah yang satu ini juga kadang perlu tombol mute dalam kondisi tertentu, apalagi kalau kamu sedang ngetik laporan dan deadline tinggal dua jam lagi.

Saya sedang berada di kereta menuju kota tetangga. Kursi nyaman, AC adem, WiFi lumayan. Di atas kertas, ini adalah situasi ideal untuk bekerja sambil bepergian. Tapi hidup, seperti biasa, tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Karena tepat satu baris di belakang saya, ada keluarga kecil yang, entah kenapa, menganggap gerbong ini sebagai playground. Si bocah meloncat-loncat, suaranya membelah ruang, dan orang tuanya tampak punya prinsip pengasuhan bebas, termasuk membebaskan seluruh penumpang dari harapan akan ketenangan.

Saya diam. Bukan karena sabar, tapi karena tidak tahu harus bagaimana. Mau menegur, takut dibilang anti-anak. Mau pindah tempat, semua kursi sudah penuh. Saya akhirnya pasrah, duduk sambil membuka Google Docs dan menatap kosong ke kursor yang berkedip-kedip, seperti sedang mengejek saya: "Yakin bisa kerja di kereta?"

Padahal, selama ini kita disuruh beralih ke transportasi publik. Katanya, selain hemat energi dan mengurangi polusi, naik kereta juga dapat mendukung produktivitas. Bisa kerja di jalan, katanya. Bisa baca buku, katanya. Tapi tidak ada yang bilang bahwa kamu mungkin harus menyelesaikan laporan keuangan dengan backsound remix jeritan dan suara snack yang diremukkan.

Namun, kerinduan akan ruang tenang di kereta bukan hanya milik mereka yang ingin lolos dari “konser dadakan” anak-anak. Belakangan, media sosial juga ramai membahas fenomena penumpang yang menjadikan gerbong restorasi sebagai coworking space darurat. Video yang diunggah dan viral di sejumlah akun sosial media memperlihatkan meja-meja di gerbong makan penuh laptop, sementara penumpang yang ingin makan harus menunggu atau mencari tempat lain.

Pihak KAI memang menegaskan bahwa gerbong restorasi adalah fasilitas umum untuk semua penumpang, tapi tetap mengimbau penggunaannya secara bijak dan bergantian. Masalahnya, imbauan ini tidak selalu efektif karena lagi-lagi bergantung pada kesadaran masing-masing. Hasilnya, ruang yang dirancang untuk satu fungsi berubah menjadi tempat kerja, dan akhirnya kedua kebutuhan—makan dan bekerja—sama-sama tidak terpenuhi secara maksimal.

Kasus ini memperlihatkan satu hal: tanpa pengaturan zona yang jelas, fungsi ruang di kereta akan bercampur dan saling mengganggu. Sama seperti gerbong restorasi yang “kehilangan identitas” karena berubah jadi kantor berjalan, gerbong penumpang biasa juga rawan kehilangan ketenangan karena bercampur dengan aktivitas yang bising. Inilah kenapa ide gerbong sunyi relevan, bahkan jika perlu disertai meja kerja tambahan, agar penumpang yang membutuhkannya benar-benar bisa mendapat ruang sesuai tujuannya.

Maka saya berpikir: apakah mungkin, di era digital ini, kita bisa meminta sedikit saja ruang tenang?

Kenapa penyedia transportasi publik tidak menyediakan “gerbong sunyi yang dilengkapi meja kerja”? Seperti ruang baca di perpustakaan, tempat orang bisa duduk tanpa gangguan. Bukan berarti anti-anak, anti-keluarga, atau anti-kebisingan. Hanya butuh satu zona kecil, tempat orang bisa menyusun pikiran tanpa interupsi sonik yang tak diundang.

Teknologinya sudah ada. Tinggal integrasi. Tiket kereta sekarang dipesan lewat aplikasi. Bayangkan kalau ada opsi tambahan: “Pilih Gerbong Tenang (tidak disarankan untuk penumpang dengan anak kecil)”.

Inovasi ini bukan soal menindas suara anak kecil, tapi soal mengakomodasi kebutuhan yang sama pentingnya: ruang tenang di ruang publik. Sama seperti ada gerbong khusus wanita, kenapa tidak ada gerbong khusus pekerja remote, atau pembaca buku?

Kita terlalu sering mendefinisikan kenyamanan transportasi dari kursi empuk, jadwal tepat waktu, atau sistem pembayaran digital. Tapi kenyamanan juga soal suasana. Soal ruang psikis yang aman untuk berpikir, diam, atau menatap jendela sambil menata hidup yang berantakan. Teknologi tidak hanya harus hadir dalam bentuk aplikasi, tetapi juga dalam bentuk kebijakan kecil yang menyelamatkan kewarasan.

Saya yakin, jika ada gerbong tenang, banyak orang akan bersyukur. Para pekerja bisa menyelesaikan tugas, pelajar bisa belajar, ibu-ibu bisa istirahat, dan penumpang seperti saya bisa percaya bahwa transportasi publik benar-benar mendukung produktivitas—bukan hanya slogan promosi.

Anak-anak tetap boleh tertawa, bernyanyi, dan belajar mengenal dunia. Tapi biarkan kami, kaum dewasa dengan kepala penuh tagihan dan notulen rapat, punya ruang untuk bernapas dalam diam. Karena di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin bising, diam pun adalah kebutuhan dasar manusia.

0 komentar

Post a Comment