Banyak pelaku usaha frozen food menghadapi kendala yang sama setiap kali harus mengirimkan produk ke konsumen: produk mencair di tengah jalan, kemasan bocor, bahkan sampai rusak ketika diterima. Masalah seperti ini tidak hanya merugikan secara finansial karena produk harus diganti, tapi juga bisa merusak reputasi bisnis di mata pelanggan.
Skenarionya sering terjadi: ice gel yang dipakai ternyata tidak cukup, box pengiriman terlalu tipis sehingga penyok saat ditumpuk barang lain, atau produk tidak dibungkus rapat sehingga ada kebocoran cairan. Hasilnya, frozen food yang semestinya sampai dalam kondisi segar berubah jadi paket yang mengecewakan penerima.
Inilah beberapa permasalahan yang biasanya muncul saat akan melakukan pengiriman frozen food:
- Bagaimana menjaga suhu tetap stabil selama perjalanan?
- Kemasan seperti apa yang mampu melindungi dari guncangan sekaligus mencegah kontaminasi?
- Bagaimana cara packing yang efisien agar tidak menambah ongkos kirim terlalu besar?
Pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat proses packing frozen food berbeda dari makanan biasa. Tidak cukup hanya membungkus dengan plastik atau kardus seadanya—diperlukan teknik khusus, kombinasi material kemasan yang tepat, serta perencanaan yang matang.
Artikel ini hadir untuk menjawab keresahan tersebut. Dengan panduan yang sistematis, Anda akan menemukan cara packing frozen food yang benar.
Persiapan Sebelum Packing
Salah satu kesalahan paling sering terjadi dalam pengiriman frozen food adalah tergesa-gesa langsung packing tanpa persiapan matang. Akibatnya, produk belum benar-benar beku, kemasan masih lembab, atau bahkan tercampur dengan jenis produk lain yang aromanya mudah menyebar. Semua ini bisa menurunkan kualitas saat sampai di tangan konsumen.
Agar hal tersebut tidak terjadi, berikut langkah-langkah penting yang perlu dilakukan sebelum mulai proses packing:
1. Pastikan Produk Beku Sempurna
Produk yang masih setengah beku jauh lebih cepat mencair selama perjalanan. Karena itu, sebelum dikemas, pastikan makanan sudah melalui proses pembekuan penuh. Untuk produk olahan seperti nugget, sosis, atau dimsum, bekukan minimal 12 jam di freezer. Sementara untuk daging atau ikan segar, simpan hingga teksturnya benar-benar keras sebelum dikirim.
2. Jaga Kebersihan Produk
Produk yang dikirim dalam kondisi kurang higienis sangat berisiko terkontaminasi bakteri. Bersihkan daging atau ikan dari darah berlebih, kotoran, atau lendir sebelum dibekukan. Untuk produk sayur atau buah beku, cuci hingga bersih lalu tiriskan airnya sebelum masuk freezer. Kebersihan sejak awal akan menentukan keamanan produk ketika diterima konsumen.
3. Kelompokkan Produk Berdasarkan Jenis
Jangan satukan ikan dengan kue beku dalam satu kemasan primer. Aroma kuat dari ikan bisa menempel ke makanan lain jika tidak dipisahkan dengan benar. Buat kelompok produk sesuai jenisnya, lalu kemas terpisah. Dengan begitu, kualitas rasa dan aroma tetap terjaga.
4. Siapkan Kemasan Primer dan Sekunder
Sebelum masuk tahap packing, pastikan material sudah siap:
- Kemasan primer: plastik vacuum/nylon bag, shrink wrap, atau plastik HDPE untuk membungkus produk langsung.
- Kemasan sekunder: bubble wrap, aluminium foil, atau kardus tebal untuk lapisan luar.
- Pendingin tambahan: ice gel atau dry ice, tergantung durasi pengiriman.
Menyiapkan semua bahan lebih awal mencegah “trial and error” di tengah jalan yang bisa membuat proses packing tidak efisien.
5. Cek Kapasitas Box & Rencana Pengiriman
Pilih ukuran box yang sesuai dengan jumlah produk. Box terlalu besar membuat ice gel tidak efektif menjaga suhu; terlalu kecil berisiko robek karena over-packing. Selain itu, periksa jadwal pengiriman—hindari packing terlalu jauh sebelum kurir datang agar produk tidak menunggu lama di suhu ruang.
Baca juga: Cara Menentukan Muatan Kontainer & Palet
Memilih Jenis Kemasan yang Tepat
Dalam pengiriman frozen food, pemilihan kemasan tidak bisa sembarangan. Setiap lapisan memiliki fungsi berbeda, mulai dari melindungi produk secara langsung, menjaga susunan agar tidak mudah rusak, hingga memastikan produk tetap dingin selama perjalanan. Agar lebih jelas, mari kita bedah lapisan kemasan satu per satu.
A. Kemasan Primer
Lapisan ini bersentuhan langsung dengan produk, sehingga kualitasnya sangat penting.
1. Plastik Vacuum
Plastik vacuum menjadi pilihan utama banyak pelaku usaha frozen food. Dengan teknik penyedotan udara hingga rapat, produk terlindungi dari oksidasi yang bisa menurunkan kualitas rasa maupun tekstur. Selain itu, produk juga lebih tahan lama karena tidak ada udara yang terperangkap di dalam.
2. Standing Pouch Plastik Tebal
Bagi produk seperti nugget, bakso, atau dimsum, standing pouch plastik tebal dengan ziplock sering digunakan. Selain praktis untuk konsumen yang ingin membuka-tutup kemasan, pouch ini juga cukup kuat menahan suhu dingin serta memberi tampilan lebih profesional.
3. Tray Plastik dengan Seal
Untuk produk yang rentan hancur bentuknya, misalnya frozen cake slice atau daging iris tipis, penggunaan tray plastik yang disegel rapat dengan plastik film bisa menjaga bentuk tetap rapi. Produk terlihat lebih rapi sekaligus higienis.
B. Kemasan Sekunder
Lapisan kedua ini berfungsi mengumpulkan beberapa produk primer agar lebih mudah ditata dan tidak mudah bergeser.
1. Kardus Kecil (Inner Box)
Produk-produk kecil seperti bakso, sosis, atau dimsum yang sudah terkemas dalam standing pouch biasanya dikumpulkan lagi dalam kardus kecil. Tujuannya agar produk tetap stabil dan tidak tertekan saat masuk ke outer box.
2. Shrink Wrap / Plastik Pembungkus
Beberapa produsen memilih menyatukan beberapa produk primer dengan plastik shrink wrap. Cara ini memudahkan penataan, sekaligus mengurangi risiko pouch sobek akibat gesekan.
3. Dus Kemasan Branded
Untuk meningkatkan nilai jual, dus kemasan sekunder dengan desain brand sering digunakan. Ini juga membantu konsumen membedakan produk ketika di-display di toko retail atau e-commerce.
C. Outer Box & Media Pendingin
Lapisan terakhir adalah pertahanan utama yang memastikan produk tetap beku selama pengiriman.
1. Kardus Tebal Berlapis
Kardus bergelombang dengan ketebalan ekstra menjadi pilihan favorit untuk outer box. Selain lebih kuat menahan tumpukan selama perjalanan, kardus ini mampu mengurangi hantaman suhu luar agar tidak langsung mengenai produk.
2. Gel Ice Pack
Media pendingin yang paling banyak dipakai adalah gel ice pack. Daya tahan dinginnya stabil, tidak mudah bocor, dan dapat digunakan kembali. Sangat cocok untuk perjalanan 1–2 hari.
3. Dry Ice (CO₂ Padat)
Untuk perjalanan lebih panjang atau pengiriman ke luar kota yang membutuhkan waktu di atas 2 hari, dry ice menjadi solusi terbaik. Suhu ekstremnya bisa menjaga produk tetap beku lebih lama, namun penggunaannya perlu hati-hati karena sifatnya bisa menyebabkan “frost burn” jika langsung bersentuhan dengan produk.
Dengan kombinasi kemasan primer, sekunder, serta outer box yang dilengkapi media pendingin, produk frozen food akan tetap terjaga kualitasnya hingga sampai ke tangan konsumen.
Teknik Packing yang Benar
Setelah kemasan dipilih dengan tepat, tahap berikutnya adalah bagaimana cara melakukan packing yang benar. Di sinilah banyak pebisnis frozen food sering menghadapi dilema: makanan sudah dibungkus rapi, tapi saat sampai ke tangan konsumen, es batu meleleh, produk jadi berair, bahkan ada yang kemasannya bocor. Hal ini biasanya bukan karena kualitas produk, melainkan teknik packing yang kurang tepat.
Untuk menghindari hal tersebut, berikut langkah-langkah yang bisa diikuti:
1. Pendinginan Produk Sebelum Dikemas
Jangan langsung memasukkan produk yang masih panas atau baru keluar dari proses memasak ke dalam kemasan. Suhu yang masih tinggi akan menimbulkan uap air di dalam plastik atau box, sehingga mempercepat kerusakan. Pastikan produk sudah benar-benar dalam kondisi dingin atau beku sebelum dipacking.
2. Lapisi Produk dengan Kemasan Primer
Gunakan plastik vakum atau standing pouch sesuai karakter produk. Saat produk sudah beku, masukkan ke dalam kemasan primer lalu rapatkan segelnya. Untuk plastik vakum, pastikan udara benar-benar tersedot habis agar tidak ada ruang kosong yang bisa memicu freezer burn.
3. Atur Posisi di Dalam Box
Saat menata produk ke dalam box sekunder atau outer box, jangan asal menumpuk. Susun produk secara rata dan rapat agar tidak ada ruang kosong berlebih. Jika ada celah, isi dengan kertas food grade, bubble wrap, atau bahan isian lainnya supaya produk tidak bergerak selama perjalanan.
4. Tambahkan Media Pendingin dengan Tepat
Gunakan ice gel atau dry ice sesuai kebutuhan. Jika menggunakan ice gel, posisikan di atas, bawah, dan di antara produk untuk distribusi suhu yang merata. Sedangkan jika memakai dry ice, letakkan di bagian atas karena sifatnya menyublim dari atas ke bawah. Yang sering jadi kesalahan adalah hanya menaruh pendingin di satu sisi, sehingga produk di sisi lain cepat mencair.
5. Segel Box Secara Rapat
Setelah semua tertata, tutup box dengan rapat menggunakan lakban tebal atau strap khusus. Pastikan tidak ada celah udara yang bisa mempercepat masuknya panas dari luar. Untuk pengiriman jarak jauh, double layer lakban di area sambungan box akan membantu menjaga kekuatan kemasan.
6. Labeling dan Petunjuk Penanganan
Langkah terakhir yang sering terlupakan adalah memberi label. Tempelkan stiker atau tulisan “Frozen Food – Harap Simpan Dingin” pada bagian luar box. Dengan begitu, pihak logistik akan lebih berhati-hati dalam menangani paket Anda.
Dengan menerapkan teknik packing yang benar, risiko produk rusak atau mencair selama pengiriman bisa ditekan secara signifikan. Bukan hanya soal menjaga kualitas rasa, tapi juga soal menjaga kepercayaan konsumen agar mau terus repeat order.
Transportasi & Metode Pengiriman
Setelah produk beku selesai dipacking dengan rapi, langkah penting berikutnya adalah menentukan transportasi dan metode pengiriman yang paling sesuai. Pemilihan sarana transportasi yang tepat akan sangat memengaruhi kualitas produk ketika tiba di tangan konsumen.
1. Opsi Transportasi
Untuk pengiriman dalam jumlah kecil, penggunaan cooler box masih menjadi pilihan praktis. Wadah ini mudah dibawa, relatif murah, dan cukup menjaga kestabilan suhu selama perjalanan singkat. Namun, ketika volume produk yang dikirim lebih besar, diperlukan armada khusus seperti cold truck atau reefer box. Kendaraan berpendingin ini dirancang untuk menjaga suhu tetap rendah dan stabil sepanjang perjalanan, sehingga produk tetap dalam kondisi beku meskipun jarak tempuh jauh.
2. Standar Suhu Penyimpanan
Produk frozen food harus berada pada rentang suhu minimal -10°C hingga -18°C. Suhu ini penting untuk mencegah pertumbuhan bakteri serta menjaga tekstur dan rasa produk tetap terjaga. Jika suhu naik di atas standar tersebut, risiko produk meleleh, berubah bentuk, bahkan berkurang kualitasnya sangat tinggi. Karena itu, baik cooler box maupun cold truck harus dilengkapi dengan indikator suhu atau termometer untuk memastikan kondisi tetap sesuai standar.
3. Jasa Ekspedisi dengan Handling Khusus Frozen Food
Tidak semua jasa pengiriman memiliki fasilitas untuk menangani produk beku. Karena itu, penting memilih ekspedisi yang memang menyediakan layanan khusus frozen food. Beberapa penyedia logistik menawarkan cold storage di titik transit, sehingga suhu produk tetap terjaga meskipun menunggu jadwal pengiriman berikutnya. Layanan seperti ini membantu mengurangi risiko kerusakan yang biasanya terjadi pada proses pemindahan barang.
4. Pilihan Layanan Instan atau Same Day
Selain armada dan suhu, kecepatan pengiriman juga berperan besar. Layanan instan atau same day delivery menjadi pilihan ideal untuk frozen food, terutama bila target konsumen berada di dalam kota. Dengan durasi perjalanan yang lebih singkat, produk dapat segera diterima konsumen dalam kondisi terbaik. Untuk pengiriman jarak jauh, layanan ekspedisi berpendingin dengan sistem jadwal yang jelas juga bisa dipertimbangkan, asalkan standar suhu tetap dijaga.
Do’s & Don’ts dalam Packing Frozen Food
Packing frozen food memang terlihat sederhana, tapi ada aturan yang harus benar-benar diperhatikan agar produk tetap aman, higienis, dan sampai ke konsumen dalam kondisi terbaik. Kesalahan kecil dalam pengemasan bisa berakibat fatal: makanan rusak, bau tidak sedap, bahkan penolakan dari pelanggan. Untuk itu, mari kita bahas hal-hal yang wajib dilakukan (do’s) dan harus dihindari (don’ts).
A. Do’s (Hal yang Harus Dilakukan)
1. Pastikan kemasan rapat & kedap udara
Gunakan plastik vakum, ziplock, atau sejenisnya agar makanan benar-benar terlindungi dari udara luar. Selain menjaga kualitas, kemasan kedap udara juga mencegah kebocoran yang bisa mengotori box.
2. Gunakan ice gel atau dry ice, bukan es batu
Es batu mudah mencair dan bisa merusak kemasan, bahkan menimbulkan risiko kebocoran air di dalam paket. Ice gel atau dry ice lebih stabil, tahan lama, dan aman digunakan untuk menjaga suhu produk.
3. Tambahkan label khusus pada paket
Tempelkan stiker atau tulisan seperti “Frozen Food – Harap Jangan Ditumpuk” atau “Simpan dalam Posisi Tegak”. Dengan begitu, kurir akan lebih berhati-hati dan memperlakukan paket sesuai kebutuhan.
B. Don’ts (Hal yang Harus Dihindari)
1. Jangan gunakan kantong plastik tipis
Plastik tipis mudah sobek, bocor, dan tidak mampu menahan suhu dingin dalam waktu lama. Akibatnya, produk bisa cepat rusak atau mencemari paket lain saat dikirim.
2. Jangan biarkan ruang kosong dalam box
Ruang kosong membuat produk lebih mudah bergeser dan mempercepat proses pencairan. Gunakan filler seperti bubble wrap, kertas, atau tambahan ice gel untuk menutup celah.
3. Jangan gunakan ice gel berlebihan
Terlalu banyak ice gel justru membuat ruang penyimpanan berkurang dan menambah biaya. Gunakan secukupnya dengan penataan yang tepat agar hasil tetap maksimal dan efisien.
0 komentar
Post a Comment