Dalam dunia logistik, salah satu keputusan penting yang sering dihadapi pelaku bisnis adalah bagaimana cara mengirimkan barang dengan efisien, aman, dan sesuai kebutuhan. Tidak hanya sekadar memindahkan barang dari titik asal ke tujuan, pengiriman kargo melibatkan banyak faktor: mulai dari pemilihan moda transportasi (darat, laut, udara), tipe kendaraan, biaya, waktu pengiriman, hingga tingkat keamanan barang.
Salah satu metode pengiriman yang paling umum digunakan di Indonesia adalah Full Truckload (FTL).
FTL adalah metode di mana satu truk penuh digunakan hanya untuk barang dari satu pengirim, tanpa berbagi ruang dengan pengirim lain. Artinya, setelah barang dimuat, truk akan langsung berangkat menuju tujuan tanpa berhenti untuk menjemput atau menurunkan muatan tambahan.
Metode ini sering disebut sebagai cara pengiriman yang “tradisional”, karena sejak lama digunakan sebelum munculnya alternatif seperti Less-Than-Truckload (LTL) pada tahun 1980-an. Meski begitu, FTL masih sangat relevan hingga sekarang, terutama untuk bisnis yang mengirimkan barang dalam jumlah besar, bernilai tinggi, membutuhkan waktu pengiriman cepat, atau memerlukan keamanan ekstra.
Namun, di balik kelebihannya, banyak pemilik bisnis pemula sering bingung:
- Apakah harus langsung memilih FTL meskipun biaya terasa tinggi?
- Apakah lebih baik menggunakan LTL yang lebih murah, tapi berisiko lebih lama dan lebih sering bongkar muat?
- Bagaimana cara menghitung efisiensinya?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat pemahaman tentang FTL vs LTL menjadi sangat penting. Dengan memahami karakteristik, kelebihan, serta keterbatasan FTL, pelaku bisnis dapat menyusun strategi distribusi yang lebih tepat: kapan harus menggunakan FTL, dan kapan lebih efisien menggunakan LTL.
Artikel ini akan membahas secara praktis apa itu FTL, pain points yang sering dihadapi pengirim, serta solusi yang bisa diterapkan agar bisnis tetap efisien, aman, dan kompetitif dalam pengiriman barang.
FTL vs LTL: Membandingkan Opsi
Dalam dunia logistik, dua metode pengiriman barang yang paling sering dibandingkan adalah FTL (Full Truckload) dan LTL (Less-Than-Truckload).
Keduanya sama-sama menggunakan moda transportasi darat dengan truk, namun memiliki perbedaan mendasar dalam cara pemakaian kapasitas kendaraan. Memahami perbedaan ini akan membantu bisnis menentukan strategi distribusi yang paling sesuai dengan kebutuhan.
Apa itu FTL?
Full Truckload (FTL) berarti satu truk penuh digunakan hanya untuk barang dari satu pengirim. Truk berangkat langsung dari titik asal menuju tujuan tanpa berhenti untuk menjemput atau menurunkan barang lain.
Cocok untuk barang dalam jumlah besar, bernilai tinggi, atau membutuhkan waktu pengiriman cepat.
Contoh: Sebuah perusahaan FMCG mengirimkan 20 palet minuman dari gudang di Bekasi ke distributor di Surabaya. Karena jumlah barang memenuhi kapasitas truk tronton, maka digunakanlah layanan FTL.
Apa itu LTL?
Less-Than-Truckload (LTL) berarti muatan dari beberapa pengirim digabung dalam satu truk. Biaya dihitung berdasarkan berat atau volume barang, bukan sewa truk penuh. Cocok untuk pengiriman dalam jumlah kecil hingga menengah, yang tidak memenuhi kapasitas truk.
Contoh: Sebuah toko online ingin mengirimkan 2 palet furnitur dari Tangerang ke Yogyakarta. Karena muatan tidak penuh, lebih hemat jika barang digabung dengan muatan pengirim lain menggunakan layanan LTL.
Perbandingan FTL vs LTL
Aspek | FTL (Full Truckload) | LTL (Less-Than-Truckload) |
---|---|---|
Kapasitas | Satu truk penuh untuk satu pengirim | Digabung dengan barang dari pengirim lain |
Waktu | Lebih cepat, langsung ke tujuan | Lebih lama, karena ada proses konsolidasi dan distribusi |
Biaya | Lebih tinggi secara total, tapi bisa lebih efisien per kg jika muatan penuh | Lebih murah untuk volume kecil |
Risiko | Minim risiko, barang tidak bongkar-muat di perjalanan | Risiko lebih tinggi karena ada banyak handling |
Kontrol | Jadwal dan rute fleksibel sesuai kebutuhan pengirim | Jadwal lebih bergantung pada operator logistik |
Kesesuaian | Cocok untuk barang besar, bernilai, fragile, atau urgent | Cocok untuk volume kecil, fleksibel, dan cost-saving |
Kapan Menggunakan FTL?
- Barang berjumlah besar (misalnya lebih dari 6 palet).
- Barang bernilai tinggi atau fragile, sehingga butuh keamanan ekstra.
- Pengiriman dengan tenggat waktu ketat (time-sensitive).
- Saat tarif LTL lebih tinggi per kg dibanding tarif FTL.
Kapan Menggunakan LTL?
- Barang berjumlah kecil hingga menengah, tidak memenuhi satu truk.
- Pengiriman tidak terlalu terburu-buru.
- Pengirim ingin menekan biaya transportasi.
- Cocok untuk distribusi reguler ke beberapa kota dengan volume kecil.
Faktor Biaya FTL yang Perlu Dipahami
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari pemilik bisnis ketika mempertimbangkan pengiriman dengan Full Truckload (FTL) adalah: “Kenapa biaya sewa truk bisa berbeda-beda, bahkan untuk rute yang sama?”
Memahami faktor pembentuk biaya FTL sangat penting agar pengirim bisa menghitung anggaran dengan realistis dan mengambil keputusan logistik yang lebih efisien. Berikut adalah faktor-faktor utama yang memengaruhi biaya FTL di Indonesia:
1. Berat & Dimensi Barang
Semakin besar dan berat barang, semakin tinggi biaya pengiriman. Jika barang terlalu besar meskipun tidak berat, tetap memakan ruang (volume-based charge). Contoh: Barang berbobot ringan tapi berukuran besar (misalnya styrofoam) bisa membuat truk penuh lebih cepat meskipun tidak mendekati batas berat.
2. Jarak Tempuh & Rute
Tarif biasanya dihitung berdasarkan jarak tempuh antar kota. Semakin jauh rutenya, semakin tinggi biayanya.
Namun, faktor rute juga berpengaruh:
- Jalan tol → lebih cepat tapi ada biaya tambahan tol.
- Jalan biasa → lebih murah tapi bisa memakan waktu lebih lama.
3. Harga BBM & Tol
BBM dan biaya tol adalah komponen terbesar dalam tarif angkutan darat. Fluktuasi harga BBM (misalnya solar subsidi vs nonsubsidi) langsung berdampak pada ongkos kirim.
Saat harga BBM naik, tarif truk ikut terkerek. Jalur dengan banyak gerbang tol juga menambah biaya signifikan.
4. Ketersediaan Truk
Hukum ekonomi berlaku juga di logistik: saat permintaan tinggi, tarif naik. High season: menjelang Lebaran, Natal, atau akhir tahun → tarif FTL cenderung naik karena banyak pengiriman barang konsumsi. Low season: tarif bisa lebih stabil atau bahkan turun karena pasokan truk berlebih.
5. Jenis Truk & Layanan Tambahan
Biaya FTL juga dipengaruhi oleh tipe armada dan layanan ekstra. Jenis truk: CDD, Fuso, Tronton, Wingbox, hingga Trailer memiliki kapasitas dan tarif berbeda.
Layanan tambahan:
- Truk berpendingin (refrigerated truck) untuk makanan/minuman.
- Liftgate untuk memudahkan bongkar muat.
- Tenaga ekstra untuk loading/unloading.
- Extra stop jika truk harus singgah di beberapa titik.
Semua layanan tambahan ini meningkatkan kenyamanan dan keamanan, tapi menambah biaya.
6. Regulasi ODOL (Over Dimension Over Load)
Pemerintah Indonesia menerapkan aturan ODOL, sehingga truk tidak boleh mengangkut barang melebihi kapasitas.
- Tronton: maksimal ±24 ton.
- Trailer: maksimal ±30 ton (tergantung konfigurasi sumbu).
Jika muatan melebihi batas, truk bisa ditilang atau ditahan di jembatan timbang, yang akhirnya menambah biaya karena keterlambatan.
Bagaimana Menghitung Efisiensi?
Setelah memahami faktor biaya di atas, pertanyaan berikutnya adalah: “Apakah FTL lebih hemat dibanding LTL?”
Untuk menjawabnya, kita bisa menggunakan perhitungan sederhana.
Misalnya, tarif FTL Jakarta–Surabaya untuk satu tronton adalah sekitar Rp16.000.000.
- Jika muatan 12.000 kg, maka biaya per kg = Rp1.333.
- Jika tarif LTL untuk rute yang sama lebih dari Rp1.333/kg, maka FTL lebih efisien.
Dengan cara ini, pengirim dapat membandingkan biaya FTL vs LTL berdasarkan volume barang yang dikirim.
Checklist Praktis untuk Pengirim
Menggunakan layanan Full Truckload (FTL) membutuhkan persiapan yang lebih matang dibandingkan sekadar menghubungi vendor logistik.
Banyak pengirim pemula terjebak dalam detail teknis yang tampak sederhana, padahal bisa berdampak besar terhadap kelancaran distribusi.
Untuk itu, berikut adalah checklist praktis yang bisa dijadikan panduan, disusun secara berurutan agar mudah diikuti.
1. Menentukan rute, tanggal muat, dan tujuan
Langkah awal yang paling mendasar adalah menetapkan ke mana barang akan dikirim, kapan harus dimuat, dan di mana titik tujuan akhirnya. Rute yang dipilih perlu mempertimbangkan kondisi jalan, apakah akses truk besar memungkinkan, serta opsi jalur tol atau non-tol.
Penentuan tanggal muat juga sebaiknya menyisakan ruang waktu cadangan untuk mengantisipasi keterlambatan. Sedangkan tujuan pengiriman harus dikonfirmasi, khususnya bila lokasi penerima berada di jalan sempit atau kawasan yang sulit diakses truk besar, sehingga alternatif tempat bongkar dapat dipersiapkan.
2. Menghitung volume, berat, dan jumlah palet
Setelah rute dan tanggal dipastikan, pengirim perlu menghitung total volume dan berat muatan, termasuk jumlah palet yang akan digunakan. Data ini menjadi dasar dalam memilih tipe truk. Di Indonesia, ukuran palet standar adalah 110×110 cm.
Jika muatan lebih dari enam palet, FTL biasanya lebih masuk akal dibanding LTL. Sebaliknya, untuk pengiriman kecil di bawah jumlah tersebut, LTL bisa lebih hemat.
3. Memilih tipe truk yang tepat
Berdasarkan volume dan berat, jenis truk dapat diputuskan. Misalnya, CDD cocok untuk pengiriman dalam kota dengan kapasitas sedang, Fuso untuk muatan lebih besar dengan jarak menengah, dan Tronton atau Wingbox untuk distribusi antar kota besar yang bisa menampung hingga 26–30 ton atau 24–30 palet.
Untuk barang ekstra panjang atau kontainer, Trailer menjadi pilihan utama. Pemilihan truk yang salah bisa berakibat fatal, baik dari sisi biaya maupun keselamatan barang.
4. Menyiapkan dokumen pengiriman
Setiap perjalanan FTL wajib dilengkapi dokumen resmi, mulai dari Surat Jalan sebagai bukti distribusi utama hingga Berita Acara Serah Terima (BAST) yang ditandatangani di titik tujuan.
Beberapa kawasan industri, pelabuhan, atau bandara mewajibkan dokumen tambahan berupa izin masuk khusus. Tanpa kelengkapan dokumen ini, risiko truk tertahan di perjalanan sangat tinggi, yang pada akhirnya menunda jadwal distribusi.
5. Memastikan kemasan dan keamanan barang
Barang yang dikirim harus dikemas dengan standar yang baik. Kemasan kokoh akan melindungi barang dari guncangan, sedangkan barang fragile sebaiknya dilabeli dan diberi perlakuan khusus.
Selain itu, metode pengamanan tambahan seperti penggunaan palet, pengikat (lashing), wrapping, atau segel pintu truk dapat menambah lapisan keamanan. Hal ini penting untuk menjaga kualitas barang tetap terjamin hingga sampai ke penerima.
6. Mempertimbangkan asuransi kargo
Meski FTL relatif lebih aman dibanding LTL karena minim proses bongkar muat, tetap ada risiko di perjalanan, mulai dari kecelakaan lalu lintas, kerusakan kendaraan, hingga faktor eksternal seperti cuaca atau tindak kriminal.
Untuk barang bernilai tinggi, asuransi kargo sebaiknya dipilih agar pengirim memiliki perlindungan finansial bila terjadi kerugian.
7. Menjaga komunikasi dengan vendor logistik
Tahap terakhir adalah memastikan komunikasi antara pengirim, vendor logistik, dan penerima berjalan lancar. Saat ini, sebagian besar perusahaan logistik menyediakan akses pelacakan GPS atau share location dari sopir.
Selain itu, penunjukan PIC dari kedua belah pihak akan membantu mencegah miskomunikasi. Koordinasi yang buruk sering kali menjadi penyebab keterlambatan, meskipun sebenarnya truk sudah tiba di lokasi tepat waktu.
Dengan menjalankan checklist ini secara disiplin, pengirim dapat meminimalkan risiko keterlambatan maupun kerugian, sekaligus memastikan bahwa pengiriman FTL benar-benar memberikan manfaat optimal bagi bisnis.
0 komentar
Post a Comment