Cara Menghitung Safety Stock


 

Meningkatnya jumlah masyarakat yang semakin sejahtera, permintaan akan barang untuk memenuhi kebutuhannya juga semakin meningkat. Permintaan akan produk retail maupun remanufacturing yang semakin meningkat tersebut mengharuskan perusahaan untuk melakukan suatu metode pengendalian persediaan. 

Pengontrolan persediaan tersebut perlu mendapatkan perhatian karena sangat berpengaruh terhadap kelancaran kegiatan usaha dalam mencapai keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya seminimal mungkin. 

Untuk itu, maka perlu adanya suatu perhitungan safety stock sebagai acuan dalam sistem persediaan. Sistem safety stock tersebut untuk menjaga persediaan barang apabila terjadi lonjakan permintaan yang tiba-tiba.

 

Apa itu Safety Stock?


Safety stock (fluctuation inventory) atau stok pengaman adalah persediaan yang sengaja dilebihkan jumlahnya untuk mengantisipasi peningkatan permintaan produksi atau peningkatan layanan.

Berikut ini adalah tujuan dari manajemen persediaan pengaman (safety stock):

  • Melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan stok (stock out) yang akan mengganggu proses produksi ataupan pemenuhan permintaan konsumen.  
  • Mengatasi fluktuasi permintaan dan ketidakpastian dalam suplai, permintaan, dan lead time.

Safety stock juga biasa dikenal sebagai persediaan cadangan. Untuk menanganinya, perusahaan umumnya memiliki pertimbangan tersendiri. 

Perusahaan harus pintar-pintar mengendalikan persediaan barang. Tidak jarang ketika safety stock tersebut terlalu banyak, maka akan berakibat membengkaknya biaya penyimpanan barang termasuk biaya sewa warehouse (pergudangan) dan biaya untuk gaji operator gudang.

Safety stock perlu dikendalikan dalam perencanaan produksi, baik stok untuk bahan baku (raw material) ataupun stok untuk produk jadi (finish good).

Permasalahan yang Muncul Akibat Perhitungan Safety Stock yang Tidak Tepat


Sistem persediaan pada perusahaan sering mengalami permasalahan terutama pada jumlah barang yang dibutuhkan, baik itu bahan baku (raw materials) ataupun barang jadi (finished goods). Tak jarang perusahaan mengalami sebagian persediaan barang mengalami kekurangan persediaan sedangkan pada sebagian lainnya mengalami kelebihan persediaan yang cukup besar. 

Permasalahan tersebut tentunya akan berdampak kepada kelancaran proses produksi, misalnya terjadi waktu tunggu, yang mengakibatkan meningkatnya lead time, sehingga proses produksi mengalami penyimpangan dari schedule yang direncanakan.

 

 

Cara Menghitung Kebutuhan Safety Stock


Penting sekali bagi perusahaan untuk menghitung atau meramalkan kebutuhan safety stock. Hal ini sebagai bentuk antisipasi bagi perusahaan, misalnya pesanan baru datang melebihi waktu lead time dikarenakan barang terlambat di perjalanan karena banjir, putusnya jembatan, atau bencana lainnya. 

 
Berikut ini adalah metode yang bisa digunakan untuk menentukan perkiraan safety stock yang dibutuhkan:

1. Menghitung safety stock berdasarkan pengalaman

Cara memperkirakan kebutuhan safety stock yang pertama adalah pihak manajemen perusahaan akan menyediakan kelebihan barang dengan melihat pengalaman penjualan marketing pada periode sebelumnya.

Contoh kasusnya sebuah perusahaan penghasil minuman herbal membuat rencana produksi sebanyak 2000 sachet per bulannya. Sementara itu berdasarkan permintaan pada periode bulan sebelumnya adalah 2400 sachet. Oleh karenanya berapa persen safety stock yang akan dikehendaki untuk setiap kali produksi pada bulan-bulan berikutnya. 

Cara menghitung persentase safety stock yang dikehendaki untuk periode selanjutnya adalah sebagai berikut ini:

Diketahui :

  • Rencana produksi awal sebanyak 2000 sachet per bulan
  • Total permintaan produk pada periode sebelumnya: 2400 sachet.


Jawaban :

Jumlah persentase safety stock = (2400 - 2000 sachet)/2000 x 100% = 20%

Sehingga persentase safety stock yang dikehendaki untuk periode produksi selanjutnya adalah sebesar 20%.

2. Menghitung safety stock dengan metode perbedaan pemakaian maksimum dan rata-rata.

Perusahaan juga dapat menggunakan metode perbedaan pemakaian maksimum dan rata-rata untuk memperkirakan jumlah safety stock yang direncanakan.

Metode perhitungan ini dilakukan dengan cara menghitung selisih antara pemakaian maksimum barang dengan pemakaian rata-rata dalam jangka waktu tertentu (misalnya pemakaian perminggu), dan kemudian selisih tersebut dikalikan dengan lead time.

Atau dalam bahasa matematika dapat dituliskan seperti berikut:

Safety Stock (SS) = (Pemakaian Maksimum – Pemakaian Rata-Rata) x Lead Time


Contoh kasus:

Perusahaan merencanakan pemakaian maksimum bahan baku A perminggunya adalah sebesar 1000 kg, sementara itu dalam pelaksanaannya pemakaian rata-rata bahan baku A sebesar 800 kg dan lamanya lead time persediaan adalah 2 minggu, berapakah safety stock yang dibutuhkan?

Jawab:

Safety Stock yang dibutuhkan = (1000 – 800) 2 = 400 Kg.

Jadi, safety stock yang harus direncanakan untuk pemenuhan bahan baku A adalah sebesar 400 kg.

Sebenarnya untuk melakukan perhitungan safety stock tidak hanya terbatas pada dua metode itu saja, kamu bisa mendapatkan metode yang lain dari perkuliahan atau berdasarkan pengalaman kerja di perusahaan.

Penutup

Berikut ini adalah hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh perusahaan manufakturing dalam manajemen persediaan:

  • Perusahaan manufakturing sebaiknya menggunakan suatu perencanaan dan perhitungan yang terukur sebelum melakukan pembelian barang sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti terlambatnya pengiriman barang dan sebagainya.
  • Perusahaan manufakturing harus menetapkan safety stock untuk mengatasi permintaan barang yang tidak dapat dipastikan dan dalam waktu yang mendadak.
  • Perusahaan manufakturing harus berusaha untuk meminimalkan biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan manajemen persediaan sehingga dana yang dikeluarkan tersebut dapat digunakan untuk investasi dalam bentuk yang lain.

0 komentar

Post a comment