Sale yang Enak, Sales yang Menggerakkan Kampung
Bertahan, Bergerak Bersama, Nguri-uri Desa
Dulu, sekitar tahun 2014–2015 saat saya masih bekerja di Jakarta, ada rasa gemas yang terus mengendap setiap kali melihat besarnya anggaran daerah DKI Jakarta, tetapi pada akhirnya justru banyak yang dikorupsi. Di sisi lain, saya juga sadar bahwa dunia pengadaan barang/jasa pemerintah adalah sesuatu yang pelik: rawan praktik korupsi, tetapi juga rawan menyeret orang-orang yang sebenarnya tidak berniat jahat (mens rea).
Dari kegelisahan itu, muncul keinginan dalam diri saya untuk melanjutkan studi magister melalui jalur beasiswa LPDP. Saya ingin ambil program magister computer science atau, jika tidak, program studi kebijakan publik. Saat itu saya membayangkan bahwa langkah tersebut dapat menjadi pembuka jalan bagi saya untuk ikut berkontribusi membangun sistem yang mampu melawan praktik korupsi.
Namun ternyata, hidup membawa saya ke arah yang berbeda. Saat sesi wawancara LPDP berlangsung, ada satu kegelisahan yang diam-diam belum selesai dalam diri saya: bagaimana jika nanti karier saya justru membuat saya harus tinggal jauh dari orang tua di Banyuwangi? Keraguan itu rupanya terlalu kuat untuk disembunyikan. Mimik wajah saya saat diwawancarai seolah sudah menjawab semuanya—bahwa saya belum benar-benar mantap meninggalkan kampung demi jalan yang sedang saya kejar.
Beberapa waktu setelah itu, saya sempat membaca kembali esai LPDP yang pernah saya tulis tentang arti “sukses terbesarku”. Di sana saya menulis bahwa sukses adalah ketika hidup masih bisa diisi dengan hal-hal baik, tetap sabar menjalani rencana yang belum tentu segera terwujud, dan mengharapkan Tuhan menetapkan kebaikan pada diri saya hingga akhirnya nanti mati dalam keadaan khusnul khatimah.
Mungkin karena itu, ketika jalan hidup ternyata tidak membawa saya pergi jauh, saya juga tidak merasa benar-benar kehilangan sesuatu. Selama masih bisa terus berbuat baik, bekerja, dan bertumbuh bersama orang-orang sekitar, insya Allah itulah bentuk sukses yang selama ini saya cari.
Kini, hampir delapan tahun saya membesarkan PengadaanBarang.co.id, sebuah website yang menghadirkan informasi dan panduan praktis seputar pengadaan barang/jasa dan UMKM. Tentu harapannya, tidak lain saya bisa tumbuh bersama orang-orang di sekitar, sambil menjalani impian sederhana yang dulu selalu saya inginkan: bekerja dekat dengan orang tua, di tanah kelahiran sendiri.
Sebagaimana yang juga saya rasakan, tidak semua orang benar-benar bisa meninggalkan rumah untuk merantau. Beberapa di antaranya bertahan bukan karena tidak punya mimpi, melainkan karena masih ingin mencari cara agar tetap bisa hidup dan tumbuh di kampung sendiri. Salah satunya adalah Mbak Della, yang kisahnya ingin saya ceritakan di sini.
Sale yang Tumbuh Bersama
Beralamat di Dusun Sumbergroto, RT 04 RW 03, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi, rumah Mbak Della terlihat sederhana, dengan halaman yang hampir selalu rapi setiap pagi.
Di bagian depan rumahnya terdapat toko kecil bernama Della Sale. Selain menjual sale pisang khas Banyuwangi, toko itu juga melayani fotocopy, laminating, pembuatan undangan, hingga buket untuk wisuda dan pernikahan.
Sementara itu, di samping rumahnya, tampah-tampah berisi irisan tipis pisang sering terlihat dijemur memanjang di bawah matahari sebelum diolah menjadi sale pisang.
Usaha sale pisang itu sudah dirintis cukup lama oleh bapak Abdul Karim dan Ibu Della Wati, jauh sebelum orang-orang ramai membicarakan produk lokal dan penjualan online seperti sekarang.
Sehari-hari, Mbak Della menjalankan usahanya dengan cara yang sederhana. Baru membuat sale setelah ada yang memesannya, karena dulu pembelinya tidak banyak—hanya warga sekitar atau kenalan yang datang langsung ke rumah. Apalagi sekitar tahun 2016-an, orang-orang di kampung sini masih sangat berhitung untuk belanja.
Kondisi itu tidak hanya dirasakan oleh Mbak Della. Beberapa warga lain yang mencoba membuka usaha kecil dari rumah juga menghadapi tantangan yang serupa. Satu per satu, ada yang akhirnya memilih pergi merantau ke kota lain karena merasa kampung ini belum cukup memberi ruang untuk hidup yang lebih baik.
Sampai hari ini, ia tetap di sini. Melanjutkan apa yang sudah ia mulai, dengan cara yang ia tahu.
Sampai akhirnya, semuanya bermula dari satu pesanan kecil.
Seorang pelanggan lama yang sudah lama merantau ke luar kota, tiba-tiba menghubungi Mbak Della. Ia bilang rindu dengan rasa sale pisang yang dulu pernah ia beli. Tidak banyak, hanya minta dikirim beberapa bungkus.
Saat itu, Mbak Della sempat bingung bagaimana cara mengirimkannya agar tetap aman sampai tujuan. Ia mencoba berkonsultasi ke layanan pengiriman JNE yang kantornya berada tidak jauh dari kantor Kecamatan Srono.
Sale pisang itu kemudian dikemas sederhana menggunakan kardus dan mulai dikirim ke luar kota. Dari pesanan kecil itulah, perlahan muncul kesadaran bahwa produk buatannya ternyata bisa menjangkau orang-orang yang tinggal jauh dari Banyuwangi.
Permintaan sederhana itu, kemudian membuka kemungkinan yang selama ini tidak terpikirkan akan hasilnya. Mulailah, Mbak Della mencoba peruntungan untuk menjualnya di ecommerce. Foto produknya pun seadanya. Awalnya hanya beberapa order. Namun perlahan, pelanggan mulai kembali membeli dan merekomendasikannya kepada orang lain. Seiring bertambahnya transaksi, sale pisang buatan Mbak Della semakin mudah ditemukan di marketplace.
Kini, produk sale pisang buatan Mbak Della tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari kemasan kecil 250 gram hingga paket 1 kilogram, bahkan 5 kilogram. Pesanan biasanya meningkat saat musim liburan dan Lebaran.
Dalam setahun terakhir, sejak pertengahan 2025 hingga sekarang, Home Industry Della Sale telah mengolah lebih dari satu ton pisang kering. Bahan bakunya berasal dari ratusan tandan pisang mentah yang didatangkan bertahap setiap bulan. Sebagian besar pemasoknya masih tetangga dan warga sekitar rumahnya sendiri. Jadi bukan hanya usahanya yang ikut bergerak, tetapi juga penghasilan warga di sekitarnya.
Kalau dulu hampir semua dikerjakan sendiri, sekarang ada sekitar enam orang yang ikut membantu proses produksi dan pengemasan. Sebagian merupakan warga sekitar rumah yang sehari-hari ikut mengiris pisang, menjemur, mengemas, hingga menyiapkan paket sebelum dikirim.
“Alhamdulillah, saiki nek rame yo iso ngajak tonggo melu kerja,” kata Mbak Della.
Membuat Kampung Tetap Hidup
Bisa jadi, pahala yang besar tidak selalu datang dari peran yang terlihat menonjol—tapi dari mereka yang memilih bertahan untuk tetap tinggal dan terus bergerak, seperti Mbak Della, yang tanpa disadari ikut menjaga kampungnya tetap hidup.
Masih ingat dengan sebuah kampung mati yang ada di Kulon Progo? Kampung Mati itu terletak di wilayah Dusun Watu Belah, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo. Dahulu ada beberapa keluarga yang tinggal di sana, lalu satu per satu pergi meninggalkan wilayah itu hingga kampungnya perlahan kosong dan kehilangan kehidupan.
Di desa sini, di Banyuwangi, memang belum sampai seperti itu. Namun, cerita tentang orang-orang yang pergi sebenarnya juga bukan sesuatu yang asing di sini. Banyuwangi bahkan pernah menempati posisi lima besar sebagai kabupaten pengirim pekerja migran Indonesia. Belum lagi mereka yang memilih pindah atau merantau ke kota-kota besar demi pekerjaan dan kehidupan yang dianggap lebih menjanjikan.
Karena itu, saya merasa beruntung desa ini masih lebih banyak dihuni daripada ditinggalkan. Kampung ini memang tidak seramai kota, tetapi juga belum benar-benar kehilangan kehidupan. Masih ada orang-orang yang memilih bertahan, menjalankan usaha kecil, bekerja, dan menjaga ritme kehidupan kampung agar tetap berjalan.
Tidak mati dari aktivitas kegiatan manusia.
Acara-acara kecil di kampung masih dihadiri masyarakat. Lailatul ijtima', misalnya, kegiatan pengajian setiap bulan yang diisi juga dengan pembagian sembako untuk masyarakat yang kurang mampu, masih ada. Dananya berasal dari masyarakat dan untuk masyarakat yang membutuhkan. Di balik semua itu, ada peran yang sering kali tidak terlihat secara langsung.
Saya yakin orang seperti Mbak Della, kurir JNE, dan individu lain yang masih tetap ingin bertahanlah yang membuat kampung ini masih terus tumbuh dengan harapan-harapan.
Paket-paket yang diantar oleh JNE memang hanya terlihat sebagai barang yang berpindah tempat. Tapi di balik itu, bagi kami yang di kampung, kemudahan logistik seperti ini benar-benar terasa manfaatnya. Barang jadi lebih mudah dikirim dan diterima dengan biaya yang lebih murah, yang bisa jadi menjadi alasan bagi Gen Z saat ini untuk bertahan di kampung halamannya.
Mbak Della mungkin hanya menjalankan apa yang bisa ia lakukan—membuat sale pisang, membungkusnya, lalu mengirimkannya.
Tapi dari hal yang terlihat sederhana itu, ada banyak hal lain yang ikut terjaga.
Bukan hanya usahanya.
Tapi juga kampungnya.
Sebuah kampung memang butuh sesuatu yang terus bergerak agar tetap hidup. Butuh aktivitas, butuh pekerjaan, butuh harapan, dan butuh “sale”.
Dan di kampung kecil ini, ada sale dan sales yang menjaganya tetap hidup.
Mungkin inilah yang dulu diam-diam saya cari ketika menulis tentang arti “sukses terbesar” di dalam esai LPDP: bertumbuh bersama orang-orang sekitar, melihat tetangga tetap punya pekerjaan, dan ikut menjaga kampung tetap hidup melalui kebaikan-kebaikan kecil yang bisa dilakukan dengan cara masing-masing.
Amin.
#JNE #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita
Catatan: Sebagian foto dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi penulis, sementara sebagian lainnya berasal dari dokumentasi dan arsip digital milik Mbak Della.
Tulisan yang sangat relate dengan kondisi banyak desa saat ini. Kadang yang dibutuhkan bukan proyek besar, tetapi peluang agar warga bisa tetap bekerja dan bertahan di kampungnya sendiri.
BalasHapusBener, aktivitas ekonomi memang menjadi salah satu hal yang membuat sebuah kampung tetap hidup. Jadi inget dawuhnya Gus Baha' kalau beli (njajan) niatkan shodaqoh untuk orangnya dan juga agar manusianya (masyatakatnya) masih hidup di kampungnya.
BalasHapusKalau dipikir-pikir, banyak produk desa yang sebenarnya enak, cuma belum ketemu pasarnya.
BalasHapus