“Biaya logistik—dan itu makin terasa berat sekarang.”
Bapak Dandy, pelaku usaha furnitur di kota saya, menyampaikan hal itu ketika kami berbincang tentang bagaimana kondisi bisnis yang ia jalani belakangan ini.
Ia kemudian melanjutkan obrolannya,
“Untung yang didapat sekarang rasanya makin tipis. Kadang malah habis di ongkos kirim. Padahal saya juga harus mikir gaji karyawan, belum lagi harga bahan baku furnitur yang terus naik. Mau naikin harga jual juga serba salah—takut pembeli mundur karena daya beli lagi turun.”
Berbeda dengan produk kecil, furnitur punya ukuran besar dan makan tempat. Dalam satu pengiriman saja, biaya logistik bisa langsung naik hanya karena beda cara kirim, ruang muatan yang tidak terpakai maksimal, atau urusan dokumen yang molor.
Berdasarkan data dari Katadata Indonesia dan Asosiasi Logistik Indonesia, rasio biaya logistik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai sekitar 14,29%—hampir dua kali lipat dibandingkan negara maju yang rata-rata berada di kisaran 8–10%.
Dalam praktik bisnis, kondisi tersebut membuat pelaku usaha haruslah menanggung besarnya porsi biaya distribusi. Dengan kata lain, dari setiap Rp100 juta biaya operasional yang dikeluarkan pelaku usaha, sekitar Rp14–15 jutanya terserap untuk kebutuhan logistik saja — Dengan nilai segitu, bagaimana nggak memangkas profit yang seharusnya bisa didapatkan jauh lebih besar?
Sekarang bayangkan jika biaya tersebut sebenarnya bisa ditekan— misalnya dari Rp15 juta menjadi Rp10 juta.
Artinya, ada efisiensi sekitar Rp5 juta dalam satu siklus operasional.
Jika dalam satu bulan pelaku usaha melakukan 10 kali pengiriman, maka potensi penghematan bisa mencapai Rp50 juta. Dalam setahun, angka tersebut bisa menyentuh Rp600 juta—jumlah yang tidak kecil, bahkan bisa dialokasikan kembali untuk ekspansi bisnis atau peningkatan kapasitas produksi.
Akar permasalahannya, seperti yang dialami Pak Dandy ini dan jutaan pelaku usaha di Indonesia lainnya, adalah masih menghadapi proses logistik yang terfragmentasi.
- Informasi tidak real-time.
- Koordinasi masih dilakukan secara manual.
- Dan keputusan sering diambil tanpa visibilitas yang memadai.
Akibatnya, biaya logistik bukan hanya terasa besar—tetapi juga sulit dikendalikan.
Kirim Furnitur ke Luar Pulau, Sering Bikin Pelaku Usaha “Galau”
Meningkatkan profit usaha, termasuk bisnis furnitur, sering kali diidentikkan dengan menaikkan jumlah penjualan. Padahal, ada satu komponen yang tidak kalah penting—namun sering terabaikan: melakukan efisiensi biaya logistik.
Di sinilah letak yang sering membuat pelaku usaha “galau”. Biaya logistik bukanlah angka yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari berbagai keputusan dalam proses distribusi.
Mulai dari memilih antara distribusi sendiri atau menggunakan jasa pihak ketiga, menentukan moda pengiriman—laut, udara, atau darat—hingga skema seperti Full Container Load (FCL) atau Less than Container Load (LCL), semuanya akan membentuk struktur biaya yang harus ditanggung pelaku usaha.
Bahkan ketika memilih distribusi sendiri, inefisiensi tetap dapat terjadi. Tidak jarang kendaraan atau kontainer berangkat dalam kondisi penuh, namun kembali dalam keadaan kosong—menyisakan biaya yang tidak termanfaatkan secara optimal.
Jika keputusan-keputusan tersebut tidak direncanakan dengan tepat, biaya logistik yang seharusnya bisa dioptimalkan justru menjadi beban yang terus berulang dalam operasional.
Belum lagi soal waktu. Proses yang lambat—seperti harus meminta penawaran harga secara manual atau menunggu konfirmasi dari berbagai pihak—sering kali membuat pengambilan keputusan jadi tertunda.
Akibatnya, pelaku usaha tidak hanya mengeluarkan biaya lebih besar, tetapi juga kehilangan momentum dalam menjalankan bisnisnya. Dan di titik inilah, rasa “galau” itu benar-benar terasa.
Hampir selama 8 tahun mengelola blog pengadaanbarang.co.id yang berfokus pada logistik dan ekspor-impor, saya cukup sering berdiskusi dengan pelaku usaha—terutama UMKM yang sedang mencoba memperluas distribusinya.
Salah satunya adalah Pak Dandy.
Beliau bercerita bahwa tantangan terbesar dalam bisnisnya bukan lagi soal produksi atau penjualan, tetapi justru di distribusi. Barang sudah siap kirim, permintaan ada, tetapi proses pengiriman sering kali tidak berjalan seefisien yang dibayangkan.
Kadang harus menunggu jadwal yang tidak pasti.
Kadang harus bolak-balik konfirmasi hanya untuk memastikan posisi barang.
Dan tidak jarang, biaya tambahan muncul di luar perhitungan awal.
Masalah ini menjadi semakin kompleks karena produk yang dikirim adalah furnitur. Berbeda dengan barang pada umumnya, furnitur memiliki karakteristik khusus yang membuat proses pengiriman tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Proses penyusunan furnitur dalam pengiriman
Tidak semua barang bisa ditumpuk begitu saja.
Risiko goresan dan kerusakan juga jauh lebih tinggi.
Dan dalam banyak kasus, perhitungan biaya pengiriman harus menggunakan skema volume (cubic meter / CBM), bukan sekadar berat.
Artinya, kesalahan kecil dalam perencanaan pengiriman bisa berdampak langsung pada biaya yang harus dikeluarkan.
Saya kemudian mencoba membantu Pak Dandy mencari pendekatan yang lebih efisien. Bukan hanya mencari layanan pengiriman, tetapi mencari sistem yang bisa membantu mengelola proses distribusi secara lebih terstruktur.
Yang dibutuhkan adalah sistem layanan shipping terbaik yang bisa memberikan visibilitas, kepastian, dan kemudahan dalam pengambilan keputusan.
Setelah melakukan sejumlah riset kecil, saya menemukan pendekatan yang lebih efisien untuk pengiriman furnitur Pak Dandy dari Banyuwangi ke berbagai wilayah di Indonesia.
Jawabannya saya temukan pada MySPIL Reloaded, platform digital yang dikembangkan oleh PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL).
Kenapa MySPIL Reloaded Bisa Menjadi Pilihan yang Terbaik?
Tidak semua solusi digital memberikan dampak yang sama. Dalam logistik, sistem yang digunakan harus mampu menjawab kebutuhan operasional secara menyeluruh. Berikut alasan mengapa MySPIL Reloaded sangat cocok untuk membantu pelaku usaha dalam proses distribusi barangnya.
1. Integrasi Laut & Darat
Proses distribusi menjadi lebih sederhana karena tidak perlu berpindah-pindah vendor. Koordinasi lebih singkat, dan risiko bisa ditekan.
2. Jadwal Konsisten
Perencanaan distribusi menjadi lebih mudah dan terukur, sehingga risiko keterlambatan yang dapat mengganggu penjualan dan arus kas bisnis bisa diminimalkan.
3. Tracking Real-Time
Tidak perlu lagi “menebak” posisi barang. Informasi yang jelas membantu pengambilan keputusan lebih cepat dan tepat.
4. Dokumentasi Terintegrasi
Mengurangi risiko keterlambatan administratif yang sering kali menjadi sumber biaya tambahan tanpa disadari.
5. Risk Handling Terstruktur
Jika terjadi kendala dalam pengiriman, proses penanganan dapat dilakukan dengan lebih jelas, sehingga potensi kerugian bisa diminimalkan.
6. Fleksibilitas Pembayaran
Dukungan sistem pembayaran dan pembiayaan membantu menjaga arus kas tetap stabil tanpa menghambat aktivitas distribusi.
7. Kepastian Biaya
Estimasi biaya pengiriman dapat diketahui sejak awal tanpa harus melalui proses komunikasi yang panjang, sehingga keputusan dapat diambil lebih cepat dan terukur.
8. Fleksibilitas Pengiriman
Pengiriman tidak harus menunggu muatan penuh. Dengan opsi berbagi ruang muatan, distribusi tetap bisa berjalan tanpa membebani biaya berlebihan.
Fitur MySPIL Reloaded Andalan Pengguna
Sejauh saya membantu pelaku usaha, ada sejumlah fitur MySPIL Reloaded yang sangat berguna dan memudahkan proses distribusi barang.
Quick Booking
Lakukan pemesanan kontainer dengan lebih cepat dan fleksibel sesuai kebutuhan pengiriman.
Track & Trace
Pantau posisi pengiriman secara real-time tanpa perlu konfirmasi manual ke berbagai pihak.
myDashboard
Lihat aktivitas pengiriman, performa distribusi, dan data penting dalam satu tampilan yang mudah dipahami.
myDO (e-Delivery Order)
Gunakan e-DO untuk mempercepat proses pengambilan barang tanpa hambatan administratif.
myClaim
Ajukan klaim pengiriman langsung melalui sistem dengan proses yang lebih terstruktur dan transparan.
Contract & Quote
Akses penawaran harga dan kelola kontrak pengiriman tanpa proses manual yang memakan waktu.
Mencoba Langsung: Booking Pengiriman dari Banyuwangi ke Jakarta
Untuk benar-benar memahami bagaimana sistem ini bekerja, saya mencoba langsung melakukan simulasi pengiriman furnitur dari Banyuwangi ke Jakarta dengan layanan door to door.
Prosesnya dimulai dengan mengisi pickup address, delivery address, serta waktu penjemputan, lalu memilih jenis kendaraan. Karena karakteristik furnitur yang cukup besar, saya memilih armada engkel box yang sesuai dengan kebutuhan dimensi dan kapasitas.
Menariknya, setelah klik “Get Price”, estimasi biaya langsung muncul di kisaran 5 jutaan—yang menurut saya sangat kompetitif jika dibandingkan dengan layanan serupa. Di titik ini, keputusan bisa diambil lebih cepat tanpa harus menunggu penawaran manual.
Selanjutnya, proses dilanjutkan dengan mengisi detail booking, pengirim, penerima (consignee), serta PIC yang bertanggung jawab dalam proses distribusi. Setelah semua data terisi, saya tinggal melanjutkan ke proses booking. Dari sini, sistem akan menampilkan kode booking yang bisa langsung digunakan untuk proses pembayaran.
Ketika kebutuhan pengiriman berkembang—misalnya untuk rute antarpulau dengan volume besar seperti furnitur Pak Dandy—pendekatan yang digunakan pun ikut berubah. Layanan door to door melalui sea freight menjadi pilihan yang lebih efisien. Bisa pakai FCL ataupun LCL.
MySPIL myDashboard: Saat Pengguna Mulai Memiliki Kendali atas Proses Logistik
Setelah proses booking dan pengiriman berjalan, kebutuhan berikutnya adalah memastikan barang sampai, dimana seluruh proses dapat dipantau dan dikendalikan dengan lebih jelas.
Melalui MySPIL myDashboard, pengguna dapat mengakses berbagai informasi penting dalam satu tampilan yang terintegrasi, sehingga aktivitas logistik tidak lagi berjalan secara terpisah-pisah.
Beberapa fitur utama di myDashboard ini akan langsung terasa dampaknya dalam operasional sehari-hari:
Stuffing Inside (FCL / LCL)
Melalui fitur ini, pengguna dapat memantau maupun mengelola proses stuffing (pemuatan barang ke dalam kontainer) yang dilakukan langsung di lokasi shipper. Informasi terkait aktivitas stuffing—baik untuk pengiriman FCL maupun LCL—dapat diakses secara lebih terarah, sehingga pengguna mengetahui proses mana yang sedang berjalan dan mana yang telah selesai.
Booking Summary
Fitur ini menampilkan aktivitas booking dalam periode mingguan maupun bulanan. Dari sini, pengguna dapat mulai melihat pola distribusi yang sebelumnya tidak terlihat dalam operasional sehari-hari.
Misalnya:
- periode dengan volume pengiriman tertinggi
- waktu-waktu dengan aktivitas yang lebih rendah
- tren distribusi yang terjadi dalam bisnis
Insight ini membantu pengguna dalam menyusun strategi pengiriman yang lebih efisien, mulai dari pengaturan kapasitas hingga penentuan waktu distribusi yang lebih optimal.
Live Maps
Salah satu pertanyaan paling umum dalam logistik adalah: “barang saya sekarang di mana?”
Melalui fitur ini, pengguna tidak lagi bergantung pada update manual. Pergerakan pengiriman dapat dipantau secara langsung, sehingga memberikan kepastian dan membantu memastikan distribusi berjalan sesuai rencana.
Storage & Demurrage Cost Simulation
Tidak semua biaya logistik muncul secara langsung di awal. Banyak biaya tambahan seperti storage dan demurrage justru terjadi karena keterlambatan yang tidak disadari. Melalui fitur ini, pengguna dapat memperkirakan potensi biaya tersebut sebelum benar-benar terjadi, sehingga dapat mengambil tindakan lebih cepat untuk mencegahnya.
Storage & Demurrage Report
Ketika biaya tambahan sudah terjadi, langkah berikutnya adalah memahami penyebabnya. Fitur ini memungkinkan pengguna menelusuri detail pengiriman—mulai dari nomor kontainer, B/L, hingga periode waktu tertentu.
Dari sini, pengguna dapat melihat di bagian mana keterlambatan terjadi, memahami pola yang berulang, dan menjadikannya sebagai dasar untuk mencegah biaya serupa di pengiriman berikutnya.
Dengan menggunakan MySPIL myDashboard, informasi yang sebelumnya tersebar kini tersaji dalam satu sistem, sehingga pengguna dapat memantau, menganalisis, dan mengambil keputusan dengan lebih cepat dan terukur.
Cegah Keterlambatan, Hindari Biaya Tersembunyi dalam Proses Logistik
Dengan menggunakan MySPIL Reloaded, pengguna dapat melihat dengan lebih jelas bahwa banyak biaya logistik sebenarnya bukan berasal dari proses utama, melainkan dari keterlambatan kecil yang sebelumnya sulit terdeteksi.
Salah satu yang paling sering terjadi adalah ketika dokumen seperti Delivery Order belum siap saat barang sudah tiba. Di titik ini, waktu terus berjalan—dan biaya seperti storage serta demurrage mulai terhitung tanpa disadari.
Melalui fitur myDO (e-Delivery Order), pengguna tidak hanya dapat memantau status dokumen, tetapi juga langsung mengajukan permintaan penerbitan DO secara online. Proses yang sebelumnya bergantung pada koordinasi manual kini dapat dilakukan lebih cepat dan terintegrasi dalam satu sistem.
Dengan kemampuan ini, potensi keterlambatan dapat diantisipasi lebih awal, sehingga risiko delay yang memicu biaya tambahan bisa ditekan secara signifikan.
Dengan alur yang lebih singkat dan transparan, pengguna tidak hanya mendapatkan visibilitas terhadap potensi biaya, tetapi juga memiliki kendali untuk mencegahnya sebelum benar-benar terjadi.
Ketika Risiko Terjadi, Kerugian Tidak Harus Ditanggung Sendiri
Tidak semua hal bisa dikendalikan, termasuk dalam proses logistik. Barang rusak, hilang, atau mengalami kendala di perjalanan tetap menjadi risiko yang bisa saja terjadi.
Dalam sistem yang masih manual, pengajuan klaim bisa menjadi proses yang panjang dan melelahkan. Mulai dari mencari dokumen pendukung, menghubungi berbagai pihak, hingga menunggu kejelasan status.
Tidak jarang, proses ini justru membuat pelaku usaha memilih untuk tidak melanjutkan klaim—karena dianggap terlalu rumit dan memakan waktu. Akibatnya, kerugian yang seharusnya bisa diminimalkan justru ditanggung sendiri.
Melalui fitur myClaim di MySPIL, proses tersebut menjadi jauh lebih terstruktur dan transparan. Pengguna dapat langsung mengajukan klaim secara online dengan memasukkan nomor Bill of Lading (BL), memilih kontainer, serta mengisi detail insiden yang terjadi.
Seluruh dokumen pendukung dapat diunggah langsung dalam sistem, dan setiap pengajuan memiliki ID khusus yang memungkinkan pengguna memantau statusnya secara berkala.
Dengan myClaim, setiap langkah terdokumentasi, setiap pengajuan dapat ditelusuri, dan setiap keputusan menjadi lebih jelas.
Dampaknya ke Bisnis
✔ Biaya logistik lebih terkendali karena potensi biaya tambahan dapat diantisipasi lebih awal
✔ Arus kas bisnis lebih stabil karena pengeluaran menjadi lebih terprediksi
✔ Keputusan pengiriman bisa diambil lebih cepat tanpa harus menunggu penawaran manual
✔ Distribusi tetap berjalan meskipun volume belum besar, tanpa kehilangan peluang penjualan
✔ Risiko keterlambatan berkurang sehingga operasional bisnis lebih terjaga
✔ Margin bisnis lebih terjaga karena efisiensi terjadi dari sisi operasional
Saatnya Logistik Tidak Lagi Jadi Beban
SPIL siap membantu bisnismu menjangkau pasar yang lebih luas.
Gunakan mySPIL SekarangReferensi: Databoks, Asosiasi Logistik Indonesia, SPIL, MySPIL. Olah visual: Canva. Data & pengalaman: penulis.
0 komentar
Posting Komentar