Jadi Nasabah Bank Kini Jauh Lebih Menyenangkan, Jangan Sampai Jadi Kenangan yang Menyakitkan

Author -  Lubis Muzaki

"Cash aja, Sil." Jawab ibu Rini saat istriku bertanya nomor rekening untuk pembayaran biaya sewa rumah kontrakan yang akan kami tempati.

Aku dan istri saling bertatapan sambil melongo dan mencoba untuk menanyakan kok ngga pake transaksi perbankan saja. Apalagi bagi kami, biaya sewa rumah yang harus dibayar jumlahnya tidaklah sedikit. Tentu lebih praktis pake transfer bank saja pikir kami.

Usut punya usut, Ibu Rini memilih untuk menyimpan seluruh uangnya di brankas miliknya, dia tidak memiliki rekening bank, karena takut akan modus kejahatan yang bisa sampe menguras isi saldo nasabah perbankan. 

"Di TV banyak kasus-kasus seperti itu." Tutupnya.

Kejahatan yang dimaksud ibu Rini tersebut dikenal dengan istilah kejahatan siber dengan modus social engineering (soceng) atau rekayasa sosial yang tujuannya 'membegal' rekening target nasabah.


Bagaimana tidak menarik dan menjadi lahan yang 'empuk' bagi para pelaku kejahatan siber, melansir dari bisnis.com, pada awal 2021 jumlah rekening simpanan mengalami kenaikan menjadi 352.728.934 rekening, atau lebih besar dibandingkan dengan Januari 2020 yaitu sebanyak 303.132.916 rekening bank, yang tanpa dibarengi dengan tingginya tingkat literasi keuangan masyarakat.

Dari situs yang sama, Tirta Segara selaku Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, dalam acara virtual Pembukaan Fin Expo BIK 2021, menyebutkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat pada akhir tahun 2019 hanya 38 persen. Kondisi ini tentu saja menjadi 'kesempatan emas' bagi para pelaku kejahatan siber untuk memanfaatkan ketidaktahuan nasabah dalam memperdaya korbannya.


Fakta lain yang mengejutkan adalah kenaikan jumlah rekening simpanan tersebut ternyata tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan jumlah masyarakat yang memiliki rekening simpanan. Jumlah rekening simpanan tersebut hanya dimiliki oleh sekitar 60% dari total populasi di Indonesia. Melansir hasil survei yang dirilis oleh Bank Dunia, dikatakan bahwa tingkat kepemilikan rekening tabungan atau Financial Inclusion Index di Indonesia sekitar 96,6 juta atau sekitar 40 persen dari total penduduk Indonesia tidak memiliki rekening di bank. Kondisi ini menyebabkan Indonesia masih tergolong ke dalam negara dengan tingkat inklusi keuangan yang rendah.


Padahal tingginya tingkat inklusi keuangan dan literasi keuangan yang dimiliki masyarakat bisa menjadi faktor pendorong utama dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Hal ini tidak lain karena individu maupun pelaku bisnis yang menjadi nasabah di perbankan dapat menggunakan layanan keuangan untuk mengembangkan bisnis, berinvestasi, dan mengelola risiko bisnisnya, yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.


Namun sayangnya, program inklusi keuangan yang digaungkan oleh pemerintah tidak terlepas dari namanya hambatan. Salah satu tantangannya adalah kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga jasa keuangan. Apalagi, di dunia digital seperti sekarang ini, seperti yang telah disinggung di atas, kejahatan siber atau digital di dunia perbankan makin sering kita dengar belakangan ini.
 

Nah, tugas kita bersama adalah bagaimana agar orang-orang yang masih masuk dalam kategori unbanked population ini mau menjadi nasabah bank sedangkan orang-orang yang sudah memiliki rekening bank ini lebih peduli lagi untuk menjaga keselamatan akun rekeningnya. Dengan begitu, harapannya, ke depan inklusi keuangan di Indonesia semakin meningkat sehingga kesejahteraan masyarakat juga semakin merata. 


Scrolling
sampai ke bawah ya, soalnya aku ingin bercerita kalau menjadi nasabah di bank itu sebetulnya sangatlah menyenangkan dan aman, bahkan menguntungan, tak perlu ada yang dikhawatirkan, asalkan kita sebagai nasabah tau cara melindungi rekening kita dari pelaku kejahatan begal digital. 

Semoga tulisanku ini berguna bagi mereka yang masih ragu terhadap layanan perbankan dan juga bermanfaat bagi mereka yang sudah mempunyai rekening bank untuk bisa menjaganya lebih baik lagi, atau bahkan bisa mengelola keuangannya jauh lebih baik.

Created by Lubis Muzaki



Aku, Bapak, dan Pelajaran yang Dapat Diambil dari Pengalaman Menjadi Nasabah Bank


Bagiku menabung merupakan kegiatan yang sangat menarik dan menyenangkan. Sejak kakak-kakaku mulai bersekolah, bapak mengajarkan anaknya untuk rajin menabung. Bapak melubangi tiang dapur yang terbuat dari bambu agar bisa berfungsi sebagai celengan. Tiang dapur di rumahku dulu multifungsi banget. Hehe.

Tiap akhir tahun sekolah, nanti celengan dari tiang bambu tersebut dibethok. Celengan dengan tabungan terbanyaklah yang nantinya diajak liburan bersama bapak dengan rombongan kelas 6 sekolah dasar di mana bapak mengajar. 

Beranjak masuk dunia perkuliahan, pengalaman menabungku mulai merasakan "sentuhan" modern. Masuk semester pertama, aku mendapatkan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA). Para penerima beasiswa yang belum mempunyai rekening bank diminta untuk mengurusnya di kantor cabang bank yang berada di kawasan kampus. 

Betapa senangnya ketika tanganku menerima buku tabungan, terlebih kartu ATM yang menurutku sangatlah canggih. Dengannya, kita bisa bertransaksi secara elektronik seperti mengecek saldo, mentransfer atau mengambil uang dari mesin ATM tanpa perlu dilayani oleh teller.

Selain itu, satu hal lagi yang berkesan dari pengalaman pertamaku masuk kantor cabang bank, yaitu corporate culture yang fokus pada kepuasan pelanggan. Rasanya masuk ke kantor bank itu seperti kita dijadikan raja. Bahkan, secara tidak sadar aku belajar untuk berkata maaf, minta tolong, dan terima kasih dari layanan bank.

Pengalaman itu ternyata juga bapak rasakan. Sebagaimana biasa gaji guru honorer diberikan secara langsung dalam bentuk fisik (amplop). Sedangkan untuk program tunjangan inpassing guru yang kala itu baru didapatkan bapak setelah mengajar kurang lebih 35 tahun, dikucurkan oleh pemerintah melalui layanan bank BRI (Bank Rakyat Indonesi). 

Dan itu menjadi pengalaman pertama bagi bapak dalam bertransaksi dengan perbankan. Tentu excited sekali begitu bapak menerima buku rekening bank dan juga layanannnya yang tulus sepenuh hati.

Sumber: Pixabay



Jadi Nasabah Bank Layaknya Berlibur Ke Wahana Wisata yang Menyenangkan: Tetap Jaga Keselamatan!



Saat berhasil mengumpulkan tabungan terbanyak, kesempatan untuk berlibur dengan bapak dan rombongan kelas 6 itu menghampiriku. Taman bermain adalah destinasi favoritku di kala itu. Mulai dari perosotan, mandi bola, memanjat tali, hingga flying fox semua kesukaanku. 

Nah, setelah dewasa aku baru sadar ternyata masing-masing permainan tersebut memiliki standar keamanan yang berbeda-beda. Peran pemilik (owner) wahana memanglah yang paling terdepan untuk memastikan setiap wahana aman digunakan. Namun, pengunjung juga memiliki kewajiban atas diri dan keluarganya agar selamat dari kejadian yang tidak diinginkan dengan mematuhi aturan yang telah dibuat oleh penyedia. Jangan sampai kita yang sedang berlibur mengalami cedera yang dapat merusak kebahagiaan di kala liburan yang seharusnya menyenangkan.


Jadi nasabah bank memang layaknya seperti sedang liburan ke wahana wisata. Berbagai layanan perbankan hadir untuk memanjakan nasabahnya. Apalagi kini dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, bank semakin melakukan sejumlah inovasi yang membuat nasabah ingin menjajal inovasi tersebut.


Dulu nasabah hanya bisa bertransaksi melalui unit kerja BRI. Kemudian, kehadiran ATM dan SMS Banking membuat nasabah berbondong-bondong beralih untuk menggunakan layanan tersebut. Tak sampai di situ, transaksi semakin mudah dengan adanya mobile banking yang membuat nasabah makin 'mager'. Semuanya cukup dengan sentuhan tangan, istilahnya one-stop living, mulai dari bayar listrik bisa, bayar BPJS, bayar uang kampus, bayar belanjaan online, bahkan hingga berinvetasi. Semuanya bisa dilakukan meski kita sambil buang air besar di toilet. Mungkin ada yang pernah? Sama aku juga pernah. Hehe.


Layanan perbankan tersebut ibarat seperti wahana permainan yang masing-masing memiliki standar keamanan sendiri-sendiri. 


Standar keamanan antara bermain perosotan dengan bermain flying fox tentu saja berbeda, bukan? Begitu juga dengan standar keamanan antara transaksi melalui kantor unit kerja BRI dengan transaksi melalui mobile banking sudah pasti berbeda. Standar keamanan tersebut disesuaikan dengan faktor risiko yang ada.


Ketika pihak bank sudah memiliki standar keamanan, maka tugas kita sebagai nasabah adalah mengikuti panduan yang ada agar dalam bertransaksi aman sentosa. Jangan sampai kita lengah dengan berbagai modus yang dilakukan oleh para pelaku cyber crime yang menyasar data pribadi dan data perbankan nasabah. 


Nah oleh karena itulah, sebaiknya kita kenali beragam jenis kejahatan siber baik itu soceng maupun kejahatan jenis lain yang membahayakan keselamatan saldo rekening:



1. Phising

Menggandakan data nasabah melalui layanan internet banking, SMS dan penyebaran link palsu.


2. Vishing (Voice Phising)

Pelaku menghubungi korban melalui telepon dan mengaku dari pihak Bank.


3. One Time Password (OTP)

Menyedot dana nasabah melalui sejumlah situs jual beli (e-commerce).


4. Skimming

Menggandakan data nasabah ketika melakukan transaksi di mesin ATM atau mesin Electronic Data Capture (EDC) yang dilakukan dengan cara menyalin atau menduplikasi data strip magnetik di kartu ATM berbantuan alat skimmer.


5. Sim Swap

Pencurian data dengan mengambil alih nomor HP untuk mengakses akun perbankan korban.



Setelah mengenal ragam kejahatan siber di dunia perbanan di atas, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui cara melindungi akun rekening kita dari modus kejahatan tersebut. Berikut akan dijelaskan selengkapnya di bawah ini. Please, scrolling sampai ke bawah, ya!


Jadi Nasabah Bank Itu Mengasyikan, Lindungi dengan A5LI!

Created by Lubis Muzaki



Ketika standar keamanan sudah dibuat oleh pihak penyedia jasa keuangan, dalam hal ini perbankan, tugas kita adalah menjadi Nasabah Bijak yang mematuhi standar keamanan tersebut agar risiko tidak timbul. 

Nah, aku punya trik untuk transaksi bank yang aman, aku namain A5LI (Baca: ASLI). Harapannya dengan menerapkan A5LI ini, transaksi perbankan yang kita lakukan tetaplah asyik dan aman.


Berikut ini penjelasan selengkapnya mengenai A5LI:



1. Abaikan Jika Ada yang Minta PIN, User, Password, kode OTP, dan CVV


Perlindungan data pribadi sangatlah penting. Tiap nasabah memiliki kewajiban untuk menjaga kerahasiaan PIN, user & password mobile banking, kode OTP, dsb. kepada orang lain termasuk yang mengatasnamakan BRI.


Untuk tindakan preventif, pastikan PIN bukanlah nomor yang mudah ditebak, seperti tanggal lahir ataupun nomor depan/belakang telepon. Rajin-rajinlah untuk memperbarui PIN secara berkala.



2. Abaikan Klik Tautan atau Aplikasi yang Mencurigakan



Saat ini, banyak sekali tautan (link) ataupun aplikasi yang mengatasnamakan dari sebuah lembaga keuangan perbankan ataupun lembaga keuangan non bank. Namun ketika diklik ataupun setelah diinstall justru diarahkan ke halaman login yang dibuat semirip mungkin dengan halaman login di situs aslinya. Teknik atau modus ini dikenal dengan sebutan phising yang bisa menjadi sebuah jebakan bagi nasabah. Kalau kamu mencoba mengisi data yang diminta, maka seluruh saldo yang kamu miliki bisa terkuras dengan cepat.


Cara mengatainya yaitu dengan cara mengenali situs resmi dan juga aplikasi resmi pihak perbankan. Misal saja Bank BRI, maka untuk mengakses internet banking-nya kalian pastikan link yang kalian gunakan adalah link https://ib.bri.co.id/. Dan untuk aplikasi mobile banking-nya kamu bisa download sekarang di App Store dan Play Store pada smartphone kalian! 

Selain link dan aplikasi tersebut, maka bisa dipastikan itu semua phising, jangan sampai meng-klik apalagi mengisi data pribadi pada situs dan aplikasi abal-abal yang digunakan untuk mengelabui korban.

 

3. Amankan sim card HP kamu


Sim Card saat ini menjadi barang berharga bagi pemilik mobile banking dan sms banking yang harus dijaga, jangan sampai berpindah tangan, karena kejahatan SIM Swap masih mengincar.

Sebagaimana telah disinggung di atas, kejahatan ini dilakukan dengan cara pelaku mengambil alih nomor ponsel atau HP target korban untuk kemudian dijadikan sarana melakukan begal rekening. 

SIM card yang aktif dan berlaku adalah SIM card milik pelaku kejahatan, dan bukan lagi milik korban karena kartu SIM lama dinonaktifkan oleh pihak operator seluler atas permintaan pelaku. 

Nah, untuk mengamankan dan mencegah sim card dari modus simp swap adalah:

  • Ganti password dan PIN secara berkala;
  • Aktifkan notifikasi perbankan melalui sms banking
  • Apabila HP dan sim card hilang, segera laporkan ke provider operator seluler dan juga pihak perbankan untuk dilakukan pemblokiran rekening bank
  • Jangan mengumbar data pribadi ke media sosial, termasuk nomor handphone. Jika ada teman yang meminta kontak no handphone, kirimkanlah lewat direct message (DM).
  • Apabila SIM card tiba-tiba tidak bisa melakukan atau menerima telepon, sms, dan akses internet, segera hubungi operator seluler untuk menanyakan hal tersebut.
  • Apabila ada perubahan nomor HP ke nomor HP baru, pastikan nomor lama yang sudah tidak aktif tersebut dihapus data-data di perbankan.

4. Ambil Duit Tanpa Kartu


Gunakan cardless withdrawal atau layanan transaksi tarik tunai tanpa kartu. Layanan ini dinilai lebih aman karena beberapa alasan, yaitu:
  • Terhindar dari skimming karena kejahatan skimming membutuhkan informasi kartu debit nasabah di mesin ATM atau mesin EDC yang menjadi instrumen untuk bertransaksi.
  • Dalam transaksi tanpa kartu di ATM, kode khusus akan dikirimkan langsung ke aplikasi mobile banking
  • Adanya batas waktu dalam transaksi tanpa kartu mampu melindungi transaksi di mesin ATM. 



5. Akun Media Sosial Perbankan yang Asli yang Difollow


Jangan merespon akun palsu yang mengatasnamakan sebuah bank ya. Cara mengetahui akun ASLI dari sebuah bank itu dengan melihat apakah akun tersebut sudah verified, dengan tanda bercentang biru (hijau untuk aplikasi chatting WhatsApp). 

Misalnya bank BRI memiliki akun media sosial yang resmi sebagai berikut:


Dengan mengetahui akun resmi bank, kamu sudah menjadi Nasabah Bijak yang uptodate. Kamu juga bisa menjadi Penyuluh Digital lho, dengan cara mengajak temen-temen kalian untuk follow dan subscribe akun bank resmi, bukan yang palsu.

Bahkan akun palsu beriklan di media sosial, sumber: IG story @bankbri_id 



6. Laporkan Akun Palsu yang Mengatasknamakan Bank


Jika temen-temen menemukan akun palsu baik akun media sosial maupun aplikasi chatting seperti Whatsapp dan Telegram yang mengatasnamakan BRI, sebaiknya langsung saja laporkan. Pesan yang dikirimkan para pelaku kejahatan ini sangatlah beragam. Sebagai contohnya, menawarkan menjadi Nasabah Prioritas, menawarkan bantuan atau perubahan tarif jasa bank, dsb.

Masing-masing aplikasi tersebut memberikan layanan bagi pengguna untuk dapat melakukan report account pada akun-akun palsu sehingga nantinya pihak penyedia bisa menghapus akun-akun tersebut.

Jika kalian belum pernah melakukannya, bisa baca cara melakukan reporting account lebih detailnya di sini ya.




7. Investasi untuk bantu pola pikir tentang keuangan jadi lebih bijak


Investasi merupakan 'menaruh' uang dengan harapan take profit atau mendapatkan keuntungan. Secara psikologis, dengan berinvestasi maka kita akan memilih untuk "menyimpan" uang yang kita miliki minimal dalam jangka menengah ataupun jangka panjang. Nah, ketika modus penipuan soceng (social engineering) seperti minta transfer, vishing (voice phishing), dsb. menghampiri kita, otak otomatis bekerja untuk mengkonfirmasi ulang bahwa uang yang diinvestasikan akan digunakan untuk masa depan, bukan untuk diposkan ke hal yang lain.

Memang benar dalam investasi dikenal high risk high return. Bisa jadi, investasi malah buntung. Namun, kita sebagai nasabah atau investor harus pintar dengan cara memilih investasi yang aman dengan keuntungan yang pasti-pasti. Misalnya dengan memilih deposito dan/atau membeli Surat Berharga Negara (SBN) ritel di bank BRI.


Ketika temen-temen memilih untuk berinvestasi di SBN ritel maka catatlah jadwalnya. Sebagai contoh, jadwal SBN ritel di tahun 2022 ini secara tentatif adalah:

Seri SBN Ritel

Masa Penawaran

Kupon

Obligasi Ritel ORI021

24 Jan - 17 Feb 2022

4,90%

Sukuk Ritel SR016

25 Feb - 17 Maret 2022

4,95%

Savings Bond Ritel SBR011

25 Mei - 16 Juni 2022

5,50%

Sukuk Ritel SR017

19 Agustus - 14 Sept 2022

5,90%

Obligasi Ritel ORI022

26 Sept - 20 Oktr 2022

Belum Rilis

Sukuk Tabungan ST009

28 Okt - 16 Nov 2022

Belum Rilis


*) Sumber: DJPPR Kementerian Keuangan diolah Pengadaanbarang.co.id



SBN Ritel di atas biasanya memiliki tenor 2 atau 3 tahun. Nah, jika sudah habis masa tenornya dan dirasa uang tersebut 'belum urgent' untuk dipake, kalian bisa menginvestasikan kembali di SBN ritel berikutnya ataupun instrumen investasi lainnya. Terus sampai seperti itu, hingga uang tersebut nanti bisa dipakai sesuai dengan tujuan investasi. Misalnya, untuk keperluan seperti membangun/merenovasi rumah, pendidikan anak, berlibur, dsb.

Oh ya, aku ingin kasih tau kalau BRI Dana Sekuritas baru saja meluncurkan BRIGHTS yang bikin berinvestasi semakin mudah dan menyenangkan, baik itu investasi Saham, Reksadana, maupun Obligasi, dalam satu platform, satu akun, satu bank pembayaran, dan satu reporting. Platform investasi online terintegrasi, BRIGHTS, tersebut dapat diakses melalui https://webtrade.brights.co.id.


Penutup Dan Harapan




Dengan menerapkan A5LI di atas, harapan aku, temen-temen yang sudah jadi nasabah bank bisa jadi Nasabah Bijak, tidak teledor, karena bagaimana pun pelaku begal rekening ini selalu mencoba untuk mencari celah dengan cara memanfaatkan kelengahan dan ketidaktahuan nasabah. Ingat, jadi nasabah bank itu asyik dan menyenangkan, jangan sampai menjadi kenangan yang menyakitkan.

Selain menjadi Nasabah Bijak, kita juga bisa menjadi Penyuluh Digital. Ini bisa dilakukan dengan cara memulai dari diri sendiri dan kemudian disebarkan ke lingkup keluarga terkecil. Kalian bisa menjadi Penyuluh Digital dengan cara mengedukasi keluarga sendiri agar menerapkan A5LI di atas. Dan jangan lupa untuk follow akun media sosial bank yang ASLI untuk mengetahui uptode terbaru tentang informasi perbankan lainnya.


Kalau semuanya sudah melek keuangan dan tahu cara aman bertransaksi di perbankan, aku berhadap semakin banyaknya nasabah bijak membuat inkluasi keuangan semakin meningkat dan rakyat pun semakin pintar dalam mengakses dan memanfaatkan produk/layanan keuangan baik untuk usaha maupun untuk memenuhi kebutuhan.


Sumber: 


- fiskal.kemenkeu.go.id

- katadata.co.id

- bisnis.com

- Akun IG nasabahbijak.id 

- bri.co.id

- Kreasi gambar: vecteezy.com dan bri.co.id

0 komentar

Post a Comment