Seperti Apa Safety Induction itu? Berikut Jenis dan Poin-Poin Penting dalam Induksi

Safety Induction merupakan program mendasar dalam mendisiplinkan pegawai atau pekerja, yaitu dengan memberikan induksi atau pengarahan dan orientasi tentang pekerjaan dan aspek keselamatan kerjanya. Induksi dilakukan terutama bagi pegawai baru atau baru dipindahkan. Selain itu, induksi juga diberlakukan bagi tamu atau kontraktor yang akan memasuki kawasan perusahaan.

Via Pixabay.com

Pengertian dan Tujuan Safety Induction



Safety Induction adalah pendekatan dan pengarahan tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta ketertiban proyek kepada pekerja baru, tamu dan kepada pekerja yang akan melakukan kegiatan pekerjaan dengan potensi risiko bahaya tinggi.

Program safety induction ini dibuat oleh safety officer sebagai salah satu upaya pencegahan terjadinya kecelakaan kerja secara administrasi, diharapkan tenaga kerja dapat mengerti dan memahami pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Jika program ini sudah selesai disusun, kemudian diserahkan kepada Project Manager untuk mendapatkan persetujuan.

Tujuan dibuatkannya Safety Inspection adalah untuk mengidentifikasi potensi bahaya sehingga segera dapat diperbaiki sebelum kecelakaan terjadi.



Dasar Hukum Safety Induction



Dasar hukum safety induction menjadi landasan bagi perusahaan mengapa perlu diterapkannya program safety induction di lingkungan kerja. Karena tidak sedikit orang beranggapan bahwa safety induction hanya membuang-buang waktu saja dan apabila dijalankan hanyalah sebuah formalitas bagi pekerja baru untuk mendapatkan Alat Pelindung Diri (APD) dan seragam kerja/rompi.


Berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Safety Induction diwajibkan bagi setiap perusahaan. Bab V tentang pembinaan pada pasal 9 ayat 1 dan 2 pada UU tersebut menyatakan bahwa:


Ayat (1) menyebutkan bahwa Pengurus diwajibkan menunjukan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang:

  • Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerjanya.
  • Semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerjanya.
  • Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan;
  • Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya.


Ayat (2) menyebutkan bahwa Pengurus hanya dapat memperkerjakan tenaga kerja yang bersangkutan setelah ia yakin bahwa tenaga kerja tersebut telah memahami syarat-syarat tersebut diatas.


Jenis-jenis Safety Induction di Perusahaan



Jenis safety induction perlu dipahami oleh semua pekerja sehingga mereka mengetahui safety induction yang tepat dan terhindar dari mispersepsi ketika safety induction akan diterapkan oleh perusahaan. Berikut ini adalah jenis-jenis safety induction:


  • Satey Induction untuk umum

    Yaitu pengarahan tentang K3 yang bersifat umum. Induksi ini diberikan kepada karyawan baru atau karyawan yang kembali setelah 6 bulan atau lebih meninggalkan kegiatan atau setelah pulang dari masa cuti. Diperlukannya pekerja yang sehabis masa cuti untuk mengikuti safety induction karena sebagai upaya merefresh kembali ingatan pekerja tentang K3 dan memberitahu jika ada perubahan dari lingkungan kerja seperti perubahan akses kendaraan, assembly point, dan lain sebagainya yang dapat menjadi bahaya bagi pekerja.
  • Induksi Lokal/Local Safety Induction

    Yaitu pengarahan tentang K3 yang bersifat khusus/spesifik yang diberikan kepada karyawan baru yang telah mengikuti induksi umum dan karyawan mutasi/pindahan dalam perusahaan yang sama. Induksi ini dilakukan secara spesifik (sesuai departemen yang akan dimasuki oleh pekerja baru) dalam artian departemen terkait yang melakukan induksi kepada calon pekerja/anggotanya.
  • Safety Induction untuk tamu

    Yaitu pengarahan tentang K3 secara singkat yang diberikan khusus untuk tamu atau pengunjung yang akan memasuki area operasional perusahaan. Induksi yang disampaikan minimal tentang gambaran umum perusahaan, kebijakan perusahaan tentang K3, kewajiban tamu selama berada di lingkungan pekerjaan, tanggap darurat, dan tata cara penyelamatan apabila ada kebakaran.

  • Induksi Ulang

    Yaitu pengarahan tentang K3 yang diberikan kepada karyawan yang melakukan penyimpangan prosedur dan atau kurang paham terhadap aspek K3 selama melaksanakan tugasnya.

Dari jenis-jenis safety induction yang telah disampaikan di atas, sudah cukup menjelaskan bahwa Safety induction tidak hanya diberlakukan bagi pekerja baru saja tetapi juga tamu/pengunjung, pekerja yang akan masuk di departemen terkait, pekerja selepas masa cutinya dan pekerja yang melanggar aturan K3 atau pekerja yang dinilai belum cukup pengetahunnya terhadap prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan perusahaan. 


Poin Penting dan Contoh Materi Safety Induction



Berikut ini adalah poin-poin penting dan contoh materi yang harus disampaikan oleh petugas saat melakukan Safety Induction:

  1. Materi tentang kebijakan perusahaan;
  2. Mensosialisasikan potensi bahaya yang terdapat pada perusahaan;
  3. Kewajiban para tamu/pegawai baru yang harus dipatuhi ketika berada di lingkungan perusahaan, termasuk kewajiban menggunakan Alat Pelindung Diri (APD);
  4. Sosialisasi fasilitas yang ada di perusahaan;
  5. Prosedur mengenai jalur evakuasi dan tempat berkumpul/muster atau assembly point pada keadaan daruratl
  6. Team dan struktur tanggap darurat;
  7. Prosedur ketika terjadi keadaan darurat; dan
  8. Jadwal kegiatan HSE diperusahaan seperti: HSE Talk, latihan keadaan darurat dll.


Siapa yang Berwenang Memberikan Safety Induction?



Lalu, siapakah yang berwenang untuk memberikan pelatihan safety induction? Apakah hanya diperbolehkan oleh seorang Petugas HSE (Health Safety & Environment) officer saja? Tidak, siapapun memiliki wewenang untuk memberikan Safety Induction asalkan sudah ditunjuk oleh perusahaan dengan pertimbangan bahwa yang bersangkutan telah memahami kondisi dan prosedur-prosedur safety induction.

Apalagi untuk Local Safety Induction maka departemen terkaitlah yang lebih paham seluk beluk dan potensi bahaya yang berada lingkup pekerjaannya. Jadi wewenang pemberian pelatihan safety induction sebaiknya disampaikan oleh masing-masing departemen perusahaan.

Safety induction ini disampaikan di tempat tertentu dengan disesuaikan jumlah peserta yang akan mengikutinya. Dan materi safety induction yang disampaikan sebaiknya menggunakan alat bantu atau alat peraga sehingga memudahkan transfer materi yang disampaikan, misalnya poster K3, rambu-rambu K3, brosur, media power point, dan audio visual.

Jadi sudah cukup jelas mengenai pentingnya Safety Induction. Selain menjalankan amanat UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, juga sebagai langkah pencegahan agar perusahaan dan pekerjanya tidak mengalami kerugian akibat kecelakaan yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan pekerja/tamu akan keselamatan dan kesehatan kerja disuatu perusahaan.

Demikianlah penjelasan mengenai seperti apa itu safety induction, tujuan pemberian materi safety induction, landasan hukumnya, jenis-jenisnya, dan poin penting yang disampaikan saat safety induction. Semoga bermanfaat untuk para pembaca.

0 komentar

Post a comment